ReviewReviewReviewReviewReviewFantastique GroupAug 17, '08 11:00 PM
for everyone
Category:Music
Genre: Rock
Artist:Deddy Dores dkk.
Fantastique Group

Oleh : Fauzi Djunaedi/KPMI

Sesuai dengan namanya, FANTASTIQUE GROUP, memang merupakan grup musik yang dibentuk secara ‘fantastis’ di Jakarta pada Mei 1974. Fantastis memang, karena melibatkan beberapa nama musisi-musisi terkenal saat itu, seperti Deddy Dores (organ/piano/leadvocal) eks grup rock God Bless; J. Sarwono (bass/komposer) dari grup Freedom; Yanto Soedjono (drums) dari grup The Gangs Of Harry Roesli dan Albert Sumlang ( saxophone) eks grup The Mercys ,bergabung kedalam grup ini hanya untuk dunia rekaman saja.

Yang menarik ketika grup ini dibentuk sebenarnya hampir semua personilnya masih aktif dengan grup mereka masing-masing, kecuali Albert Sumlang (saxophonist) yang sudah ‘keluar’ dari grup the Mercys sejak Maret 1974. Dan belum beberapa lama bergabung, mereka sudah langsung masuk dunia rekaman untuk album mereka yang pertama maupun album pop Melayu

Langkah-langkah ‘fantastis’ Deddy Dores berjalan mulus karena berkat dukungan sepenuhnya dari pihak rekaman Purnama Record, yang sekaligus sebagai pemrakarsa awal terbentuknya grup Fantastique Group. Hal ini terjadi karena ‘ketidakpuasan’ pihak rekaman Purnama Record terhadap The Mercys (yang selama itu menaungi rekaman album-album The Mercys) ,yang telah berpindah ke pihak rekaman Remaco. Sehingga ‘ketidakpuasan’ masing-masing pihak berlanjut dan berdampak pada salahsatu personil The Mercys, Albert Sumlang yang memang ingin menyaingi kepopuleran The Mercys setelah ia terdepak dari grup tersebut karena masalah internal.

Deddy Dores yang memang sudah dikenal sebelumnya, baik sejak di grup Freedom Of Rhapsodia (Bandung) maupun di grup God Bless (Jakarta) sebagai seorang musisi yang serba bisa dan punya talenta yang lebih. Ia pernah melakukan rekaman dengan grup Freedom Of Rhapsodia ini sampai album keempat Karena, selain menguasai peralatan keyboard dan gitar, ia juga mempunyai olah vocal yang bagus dan kemampuan sebagai pencipta dan piñata musik lagu-lagu pop komersil. Tak heran, sebelum bergabung dengan Fantastique Group ini, Deddy Dores telah merampungkan album rekaman perdana grup The Road ( grupnya diluar God Bless bersama dengan Donny Fattah,Ludwig Lemans,Fuad Hasan alm.) yang diberi judul ‘Tinggal Kenangan’ dibawah label rekaman PT.Remaco pada September 1973 saat masih aktif di grup rock God Bless.
Nomor lagu ‘Yatim Piatu’ sebagai salahsatu lagu yang sukses secara komersial ,sempat mencuri perhatian pecinta musik di Indonesia dengan lirik yang sederhana dan aransemen musik sedikit berbeda. Fantastique Group berhasil memadukan corak gaya lagu Melayu dengan jeritan suara saksophon Albert Sumlang dan olah vocal Deddy Dores yang cukup jernih. Biasanya, aransemen lagu-lagu yang diiringi Albert Sumlang dengan saksophonnya adalah lagu-lagu pop ala The Mercys. Seperti kita ketahui , Albert Sumlang sejak bergabung dalam grup The Mercys sudah berhasil menyelesaikan enam (6) album rekaman untuk lagu pop Indonesia.

Walaupun Fantastique Group didukung oleh nama-nama musisi terkenal, tetapi hasilkarya ciptaan mereka masih seperti itu-itu juga dan belum ada perubahan yang berarti. Terlebih lagi nomor yang menjadi andalan mereka, ‘Kau Gadis Yang Manis ‘ karya J.Sarwono nyaris mirip lagu ‘Tiada Lagi’nya The Mercys

yang sudah popular sebelumnya. Padahal kita tahu bahwa J.Sarwono semasa masih di grup Freedom Of Rhapsodia sempat menghasilkan lagu legendaris ‘Hilangnya Seorang Gadis’ yang sampai saat ini masih disukai pencinta musik Indonesia. Bahkan lagu tersebut sudah diaransir ulang oleh Erwin Gutawa dalam album Orkestra pada tahun 2007 dengan tambahan musik orkestranya.

Dengan keberadaan pihak rekaman Purnama Record dibalik grup ini sebagai sponsor, semakin memudahkan Deddy Dores dan personil lainnya, menyalurkan karyacipta mereka untuk direkam. Tak heran,jika Deddy Dores yang selama ini berkecimpung lebih dekat dengan musisi-musisi rock Jakarta maupun Bandung , mengajak Benny Soebardja (lead vocal/gitar dari grup rock Giant Step) untuk berpartisipasi. Nomor lagu ‘Hampa’ ciptaan Benny Soebardja dimasukkan dalam rekaman album kedua ‘Hidup Seniman’ selain nomor ‘Laguku’ dan ………untuk grup Fantastique Group ini.

Bahkan untuk menyiasati pangsa pasar anak muda terutama penggemar musik rock , disampul depan album kedua ‘Hidup Seniman’ terpampang jelas sosok Benny Soebardja yang kala itu memang sedang menapaki popularitas sebagai salahsatu ‘rock star’ Indonesia. Strategi ini mengingatkan kita saat Deddy Dores memasang foto dirinya dengan Ludwig Lemans (eks gitaris God Bless) pada sampul rekaman grup The Road ,grup rekaman Deddy Dores sebelumnya dengan personil God Bless pada tahun 1973 akhir.

Setelah eksis didunia musik Indonesia, Fantastique Group rupanya agak sulit untuk melesat kan namanya lebih jauh lagi. Pasalnya, predikat sebagai grup musik rekaman kurang menguntungkan dalam dunia ‘showbiz’ saat itu, apalagi untuk menjelajahi dunia pentas pertunjukkan ‘live’ yang memang lagi ‘booming’. Tak heran ,tak berapa lama kemudian (Juni ’74) Deddy Dores (organ/piano/lead vocal) dan Yanto Soedjono (drums) lebih memilih grup rock Giant Step sebagai wadah untuk mengembangkan keterampilan bermusiknya. Apalagi sejak mulai terbentuk, grup rock Giant Step asal Bandung ini mulai dipadati ‘show’ ke beberapa kota besar di Tanah air.

Fantastique Group memang fantastis, karena dalam selang waktu yang singkat mereka malah berhasil merampungkan beberapa album rekaman lagu Pop Melayu ketimbang lagu-lagu pop Indonesia, namun belum memunculkan sesuatu yang baru. Kemampuan Albert Sumlang dalam meniup saksophon telah diperlihatkannya dalam album rekaman mereka. Bahkan ia sengaja menggabungkan dua (2) alat tiup saksophon sekaligus dengan cara ‘dubbing’, namun belum dapat membuat warna musik Fantastique Group terasa berbeda.

ReviewReviewReviewReviewReviewGroup Rock dari kota MedanJul 31, '08 12:38 AM
for everyone
Category:Music
Genre: Rock
Artist:The Minstrel's
THE MINSTREL’S
SUPREMASI MUSIK ROCK KOTA MEDAN

Oleh : Fauzi Djunaedi/KPMI

Ketika hingar-bingar musik rock sedang melanda kaum muda di Tanah air, sekitar tahun ‘70an terutama di Jakarta,Bandung, Surabaya, Malang dan kota besar lainnya, dikota Medan juga telah bermunculan beberapa grup–grup musik cadas. Salah satu diantaranya adalah grup THE MINSTREL’S, yang pada saat itu didukung oleh beberapa musisi muda , diantaranya Adhy Haryadi (lebih dikenal dengan nama Adhi Sibolangit, bassist Giant Step era ’74-‘80), serta musisi lainnya. Oleh karena seringnya gonta-ganti pemain, tak heran jika nama grup The Minstrel’s seolah-olah terdengar namun tidak jelas keberadaan personil pendukung dan perkembangannya.
Namun ,keberadaan grup The Minstrel’s sebagai grup rock yang potensial baru terdengar diakhir tahun 1973 ketika beberapa musisi Jakarta, Jelly Tobing (drums, eks C’Blues), Mamad (bass, eks C’Blues) dan Fadhil Usman (leadguitar, eks Ivo’s Group) bergabung bersama Christ Hutabarat (saksophon) dan Iqbal Thahir (organ). Apalagi dengan dukungan seorang manajer, Ny.Syahniar Syahbudin yang memang dikenal sebelumnya sebagai seorang tokoh ‘showbiz’ dibidang ‘entertainment’ , membuat personil The Minstrel’s lebih percaya diri dan siap bersaing dengan grup rock lain,seperti The Rhythm Kings dan The Great Session, dari kota yang sama.

Sepakterjang grup rock The Minstrel’s, setelah didukung oleh Jelly Tobing dan kawan-kawan diatas pentas pertunjukkan musik rock mulai diekspos, baik lewat media cetak maupun dari beberapa kali pentas ‘live’ musik rock dikota Medan. Nomor-nomor lagu rock dari grup-grup asing, seperti dari Black Sabbath, GrandFunk RailRoad dan lain-lain sering dijadikan nomor–nomor ‘repertoar’ andalan mereka. Bahkan dikatakan, saat itu hanya Fadhil Usman (leadguitar /vocal) lah musisi yang pertamakali membawakan nomor-nomor lagu dari Jimmie Hendrix diatas panggung,bersama grup The Minstrel’snya.
Posisi Mamad (bass), yang semasa di grup C’Blues selain sebagai gitaris juga merangkap vokalis, digrupnya yang baru ini dicoba untuk lebih eksis lagi dalam menunjang fungsi vokalnya.Mengingat, grup The Minstrel’s ini membutuhkan penyanyi dengan vocal prima jika ingin tetap dengan warna musik rocknya.Sayangnya ,frekuensi pertunjukkan musik rock dipentas terbuka untuk kota Medan saat itu tidak sesemarak dengan kota-kota Jakarta, Bandung, Surabaya
bahkan Malang. Tak heran jika grup The Minstrel’s berusaha untuk membuktikan keperkasaan mereka melalui ‘pernyataan’ dimassmedia, bahwa mereka siap bertarung dengan grup-grup musik rock seperti The Rhythm Kings maupun The Great Session.

Popularitas The Minstrel’s pun sedikit demi sedikit sudah mulai terangkat, walaupun untuk ukuran grup musik rock di Tanah Air, grup ini sebenarnya ‘minim’ berkiprah dalam pertunjukkan ‘live’ musik rock. Hal ini, berkat kerja keras sang manajer, Ny.Syahniar selain sebagai promotor, juga salahsatu tokoh ‘entertainment showbiz’, yang terkenal dikota Medan. Dengan seringnya sang manajer mengikutsertakan grup The Minstrel’s dalam beberapa kegiatan ‘showbiz’nya, maka praktis grup The Minstrel’s, mulai dikenal dan sekaligus menambah ‘jam terbang’ untuk kegiatan pentas musik secara ‘live’.
Dalam suatu acara pergelaran busana di Taman Ria Medan 1974, yang diselenggarakan oleh Minstrel’s Fashion Group (pimpinan Ny.Syahniar Sahbudin ) , grup The Minstrel’s sempat tampil dengan menampilkan aksi sang drummer, Jelly Tobing menabuh drum sambil memutar-mutar kursinya kearah ‘tetabuhan’ drum yang mengelilinginya. Untuk ukuran saat itu, aksi tersebut dapat dianggap menarik dan unik.

Situasi persaingan grup rock dikota Medan yang semakin memanas, membuat seorang promotor memberanikan diri untuk menampilkan ketiga grup rock papan atas kota Medan ini (The Minstrel’s, The Rhythm Kings, The Great Session) dalam satu panggung pertunjukkan. Pada bulan Juni 1974, bertempat di Wisma Ria, Jl.Gedung Listrik, Medan , lewat massmedia local acara ini diliput dimana para penggemar musik rock kota Medan tumpah ruah untuk menyaksikan grup kesayangan mereka beradu, untuk memperlihatkan siapa yang terunggul. Bahkan, tidak hanya musisi yang menjadi bahan aduan tetapi diluar gedung pertunjukkan antar sesama ‘fans’ fanatik hampir terjadi keributan. Fans masing-masing grup terlihat saling mengejek dan menjatuhkan nama grup pesaingnya, termasuk teknisi masing-masing grup. Untungnya, pertunjukkan berjalan lancar dan grup The Minstrel’s pun berhasil membuktikan kepada pencinta musik rock kota Medan bahwa mereka memang pantas menjadi grup rock unggulan kota Medan.

Walaupun predikat grup The Minstrel’s sebagai grup rock yang tangguh, namun ternyata ada kendala yang menghadang untuk masuk dunia rekaman. Pasalnya, pembuatan lirik dan musik yang disukai masyarakat menjadi acuan bagi para pihak rekaman untuk mendukung pembuatan album rekaman suatu grup musik agar dapat terjual. Tak heran jika dalam formasi ini, grup The Minstrel’s merekam hasilkarya
mereka dengan nomor-nomor lagu berwarna musik pop ke pihak Remaco, Jakarta. Ironis memang, grup yang berjaya dengan repertoar lagu-lagu ‘rock’ dapat dijinakkan dengan lagu-lagu pop dalam dunia rekaman.

Bukanlah seorang Jelly Tobing jika dalam aksi panggungnya tidak dapat menampilkan ‘sensasi’ maupun ‘kehebohan’. Hal ini terbukti ketika Jelly Tobing dalam suatu ‘show’nya bersama The Minstrel’s mencoba ber’eksperimen’ memadukan peralatan tetabuhan ‘drum’nya dengan gamelan dan menggabungkan unsure bunyi2an dari ‘minimoog synthesizer’ kedalam pukulan-pukulan drumnya. Ulah kreatif Jelly Tobing ini, hampir menjadi kenyataan walaupun untuk menggabungkan unsure-unsur bunyian dari ‘minimoog synthesizer’ masih menjadi kendala teknis. Tetapi ide penggabungan alat tetabuhan ‘drum’ dengan gamelan paling tidak sudah menimbulkan sesuatu yang baru bagi para ‘drummer’ saat itu . Beberapa tahun kemudian (Oktober 1988), sensasi dan kehebohan Jelly Tobing ini terjadi lagi ketika ia di Pantai Ancol ,Jakarta memainkan ‘solo drum’ selama 9 jam tanpa henti sehinga ia sempat diberi gelar ‘ drummer paling sensasional’ di Indonesia dan pemegang rekor terlama memainkan solo drum kala itu.

Jika melihat perkembangan musik rock dikota Medan, seputar tahun 1974 sebenarnya ada beberapa grup musik rock yang sudah mulai bergerak maju. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan grup The Minstrel’s sebagai pemicu gaung musik rock dipentas-pentas pertunjukkan di Sumatera Utara. Eksisnya grup rock Destroyer (dengan Guntur Simatupang ‘sang superstar’) ; Freeman ( Dalimunthe dkk) ; Black Spades dan yang lainnya, menimbulkan gaung musik rock di kota ini lebih terasa. Tak heran jika majalah Aktuil, Bandung membuat perhelatan akbar dalam pertunjukkan musik rock dikota Medan pada tahun 1975, yang berhasil sukses dan membuat nama musisi rock asal kota Medan mulai dikenal di Tanah Air.

Persoalan internal antar musisi dalam grup The Minstrel’s ini pun sempat terdengar. Hal ini biasanya dipicu dari ‘idealisme’ masing-masing personil yang berbenturan dengan warna / corak musik yang akan dimainkan sebagai ciri dari grup tersebut. Christ Hutabarat (saksophon) ,menyatakan mundur dari formasi The Minstrel’s karena alasan yang sederhana yaitu warna musik yang dimainkan The Minstrel’s sudah tidak sesuai dengan peran alat tiup yang dimainkannya (warna musik rock yang berbeda). Alhasil formasi The Minstrel’s hanya didukung oleh empat orang personil saja: Jelly Tobing (drums); Mamad (bass,vocal); Fadil Usman (leadguitar,vocal); Iqbal (organ).

Kiprah grup The Minstrel’s sebagai sebuah grup musik rock dianggap terlalu ‘slow’ dalam kegiatan ‘showbiz’. Apalagi perlengkapan /peralatan musik yang dianggap masih kurang jika dibandingkan dengan grup seklasnya, membuat personil yang lain agak sulit untuk berkarir di grup ini. Tak heran jika pada akhir tahun 1975, beberapa personil The Minstrel’s lebih memilih mundur dan hengkang ke Jakarta demi karir bermusik Tak heran jika pada akhir tahun 1975, beberapa personil The Minstrel’s lebih memilih mundur dan hengkang ke Jakarta demi karir bermusik mereka.

Fadil Usman (leadguitar,vocal), yang keponakan penyanyi senior Ivo Nilakrishna bersama Mamad (bass,vocal) orangtua dari penyanyi Eka Deli, kemudian bergabung dengan grup rock Brotherhood, Jakarta dimana Faried Hardja (alm) sempat sebagai vokalis utama serta Yongky (keyboard) ,rekan Mamad dan Jelly semasa di C’Blues.

Surutnya nama The Minstrel’s setelah ditinggal ketiga personil utamanya, membuat sang manajer grup ini hampir kehilangan daya untuk menghidupi nama yang sudah dirintisnya. Bahkan rekaman grup The Minstrel’s yang sempat diedarkan dengan pihak rekaman Remaco hampir tak pernah terekspos secara baik dalam peredarannya. Sehingga gaung nama grup The Minstrel’s hanya diidentikkan dengan semasa keberadaan Jelly Tobing dan kawan-kawan digrup tersebut.
Sosok Jelly Tobing dikenal sebagai drummer yang cukup baik menjalin komunikasi dengan sesama musisi rock semasa ia berdomisili di Jakarta. Tak heran jika ia disebut-sebut bakal membentuk grup rock baru di Jakarta, dengan nama Speed Fire yang akhirnya pupus juga sebelum terbentuk.
Selama melanglang buana di Jakarta, ia sempat terikat kontrak bermain diklab malam Ankerage sebelum akhirnya menetap di Bandung untuk bergabung dengan grup Superkid (rock trio Deddy Stanzah alm.;Deddy Dores dan Jelly Tobing) pada pertengahan ’76.




ReviewReviewReviewReviewReviewGod Bless minus Achmad AlbarJul 27, '08 8:58 PM
for everyone
Category:Music
Genre: Rock
Artist:THE ROAD
THE ROAD
‘HARDROCKERS’ DALAM REKAMAN KOMERSIAL

The ROAD = GOD BLESS - Achmad Albar
Oleh : Fauzie Djunaedi/KPMI

Nama grup yang sedikit berbau asing ini, memang sengaja dipilih untuk membedakan nya dari grup musik pop yang sudah ada. Ya…memang grup THE ROAD dibentuk oleh Deddy Dores (leadvocal,organ,piano ) mantan grup Freedom Of Rhapsodia dengan beberapa musisi handal ,antara lain alm.Fuad Hassan (drums) ; Ludwig Lemans (gitar); Donny Fattah (bass) Uniknya pada saat grup ini dibentuk pada pertengahan tahun 1973, semua personil tersebut masih aktif sebagai personil grup rock God Bless yang sedang melejit namanya di Jakarta.

Sosok Deddy Dores, yang sempat melambungkan nama grup Freedom Of Rhapsodia dengan nomor lagu ‘Hilangnya Seorang Gadis’ diharapkan oleh rekan-rekan dalam grup ini dapat mengulangi kesuksesan yang sama. Mengingat , grup rock God Bless yang menaungi mereka menurut Deddy Dores belum sepenuhnya mampu menunjang ‘kehidupan’ sebagai musisi dalam artian financial. Musisi rock memang lebih banyak berkiprah di atas pentas musik ‘live’, ketimbang dalam dunia industri rekaman yang saat itu lebih menjanjikan secara komersial.

Kehadiran grup The Road untuk menapaki dunia rekaman ‘komersial’, justru diiyakan oleh Achmad Albar untuk Deddy Dores dan kawan-kawan. Bahkan ketidakmunculan nama Achmad Albar dalam grup ini, menurut Deddy Dores

merupakan solusi terbaik bagi grup rock God Bless agar namanya tidak disalahartikan (istilah tepatnya :’jaga imej’) dengan predikat sebagai grup rock yang kurang berselera dan grup asal jadi saja. Kala itu ,grup rock sering diidentikkan dengan lagu-lagu asing / Barat bercorak ‘keras’ saat tampil di pentas-pentas pertunjukkan.

Dengan dukungan pihak label rekaman Remaco sebagai sponsor, maka pada bulan September 1973 dunia rekaman pun mulai dijalani Deddy Dores dan kawan-kawan,dalam grup The Road ini. Nomor lagu ciptaan Deddy Dores yang berjudul ‘Tinggal Kenangan’, sekaligus diambil sebagai judul album rekaman perdana mereka. Kepiawaian Deddy Dores sebagai pemain keyboard/organ/vocal juga dilengkapinya dalam rekaman ini sebagai peñata musik. Ada enam (6) lagu pop Indonesia yang diciptakan untuk album ini, yang kebanyakan bertemakan ‘romantisme cengeng’, pengabdian dan perjuangan.

Keikutsertaan grup rock God Bless dalam acara pergelaran musik bergengsi ‘Summer 28’ pada 16 Agustus 1973 di Ragunan-Pasar Minggu, Jakarta semakin menambah popularitas dan keperkasaan nama personil yang termasuk mendukung grup ini sebagai ‘rockers’ yang handal. Ironis memang jika setelah 3 minggu kemudian, grup God Bless tanpa Achmad Albar ini menebarkan musik pop ‘cengeng’ yang jauh sekali dari tampilan musik yang mereka tebarkan pada acara musik terbesar Summer 28 tersebut, dalam rekaman.

Dengan harapan ,selain menampilkan sekumpulan ‘rockers’ handal yang mendukung rekaman komersial ini sebagai jaminan kualitas musiknya, pihak rekaman Remaco memasang gambar Deddy Dores dan Ludwig Lemans (gitaris God Bless asal grup Clover Leaf,Belanda) sebagai gambar sampul depan PH (Piringan Hitam) maupun dalam format sampul kaset. Strategi ini dilakukan ‘kemungkinan’ untuk memancing selera pencinta musik rock (selain pop) agar tertarik membeli album rekaman ini.

Walaupun hampir semua personil terlibat dalam rekaman komersial ini, aktivitas grup rock God Bless justru makin padat dengan jadual pentas dibeberapa kota besar di Indonesia. Malahan, pada akhir Agustus ’73 di Gelora Saparua ,Bandung,grup rock God Bless sempat tampil bersama grup The Gangs Of Harry Roesli serta Band Bentoel (malahan kala itu, Ian Antono masih sebagai ‘drummer’ grup rock asal Malang tersebut sebelum bergabung dengan God Bless pada tahun 1975).

Sebagai seorang musisi rock yang banyak berkecimpung dalam dunia rekaman (bersama grup Freedom sampai dengan empat album rekaman), Deddy Dores pun tetap melaju dengan atribut sebagai ‘rocker’ sejati. Terlebih dalam aksi panggung yang ditampilkannya bersama God Bless, banyak mengundang decak kagum rekan musisi rock yang lain. Akhir November ’73 sang gitaris Ludwig Lemans harus balik

ke negaranya, Belanda, perannya di grup God Bless digantikan oleh Donny Fattah yang sebelumnya berperan sebagai ‘bassist’ , sedangkan Deddy Stanzah (mantan bassist The Rollies) menggantikan posisi Donny Fattah. Namun ,fungsi Deddy Dores (keyboard ) tetap tidak berubah. Nama grup The Road pun seolah-olah menghilang setelah kepergian Ludwig Lemans ini, walaupun album perdana mereka sudah beredar.

Nama grup The Road pun seolah-olah raib dari dunia musik di Tanah air, apalagi setelah Deddy Dores mengundurkan diri dari God Bless (tahun ’74). Kiprah Deddy Dores didunia rekaman selanjutnya terdengar setelah ia membentuk grup rekaman Fantastique Group bersama dengan Albert Sumlang (mantan The Mercys) dan setelah itu/ kemudian masuk grup rock tangguh asal Bandung, Giant Step (pimpinan Benny Soebardja).

Munculnya grup The Road, pada tahun 1978 dalam dunia industri musik di Indonesia sempat mengundang tanya dari musisi yang mengenal nama grup ini pada awalnya. Rupanya Dores Bersaudara ( Deddy, Tommy dan Yonni) bergabung bersama Donny Fattah untuk mengaktifkan kembali grup The Road dalam dunia rekaman. Peran manajer untuk kehadiran The Road edisi ke 2 ini langsung dikelola oleh Yonni Dores (kakak Deddy Dores). Formasi baru The Road, yang terlihat belum solid ini terdiri dari : Jack (organ), Gendon (dummer, eks Clique Fantastique), Donny Fattah (bass, lead vocal, masih aktif di grup God Bless), Deddy Dores (lead guitar) dan Tommy Dores (penata musik).

Mereka merampungkan album rekaman kedua The Road, dibawah naungan label rekaman PT.Irama Tara. Jika Deddy Dores lebih dominan dalam penciptaan lagu-lagu dan sebagai vocal utama di album perdana mereka, maka sekarang berubah. Donny Fattah dipercayakan menjadi vokalis utamanya dan sempat menciptakan dua (2) lagu ‘Sembilan Tahun’ dan ‘Polussi’ ,sekaligus sebagai penata musik untuk kedua lagu tersebut. Secara kualitas, musik yang mereka hadirkan dalam album kedua The Road ini belum banyak mengalami perubahan. Hanya ada sedikit berbeda, warna musiknya agak bercorak ‘pop ballad’, secara keseluruhan berwarna pop biasa.

Disaat yang sama, dengan dukungan label rekaman yang sama , Achmad Albar sedang asyik bersolo karir diluar God Bless, membentuk Duo Kribo bersama Ucok ‘AKA’ Harahap, dan peñata musik rekaman untuk album tersebut ditangani oleh Ian Antono,gitaris God Bless. Bahkan Donny Fattah (bassist God Bless & The Road) sempat menciptakan lagu ‘Hujan’ untuk album Duo Kribo tersebut. Lirik lagu ciptaan Donny ini sangat ‘puitis’ sekali dan aransemen musik yang dibuat Ian Antono sangat ‘pas’ sekali dengan vocal Achmad Albar .

Setelah merampungkan album yang kedua ini, lagi-lagi nama The Road mulai meredup lagi bahkan sudah mulai menghilang. Walaupun para personilnya masih

aktif dengan grup mereka masing-masing (Donny Fattah & God Bless ; Deddy Dores & grup Lipstick, Caezar, Sansekerta; Bayu) namun peluang untuk menghidupkan kembali grup The Road ini sangat kecil. Hal ini lebih banyak disebabkan oleh pengaruh warna musik pop progresif yang sedang berkibar di Tanah air, baik dari Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors maupun bergaungnya warna musik ala ‘Gang Pegangsaan’ yang sedang digemari saat itu.

Namun, sebenarnya Donny Fattah dan adiknya Ruddy Gagola masih meneruskan warna musik ‘pop ballads’ dalam grup bentukannya yang baru, D & R (Donny & Ruddy) dan sempat merilis 3 album rekaman serta melibatkan personil grup God Bless yang lain, Ian Antono (leadguitar) dan Teddy Sujaya(drums).







ReviewReviewReviewReviewReviewDua Tahun Rubrik OLDIES GOODIESMay 29, '08 3:06 AM
for everyone
Category:Other
Hari ini genap dua tahun(29 mei 2006 - 29 mei 2008)rubrik OLdies Goodies ditayangkan di koran Republika,ada 84 artikel tentang musisi Indonesia era 70 - 80an yang sudah dimua,tks banyak buat teman-teman KPMI..ini daftar artikelnya.

FARIZ RM
GIANT STEP
GURUH GIPSY
DARA PUSPITA
SUPERKID
KOES BERS
HARRY RUSLI
GOD BLESS
AKA/SAS
GOMBLOH
LILIS SURYANI
THE GEMBELL'S
KOES PLUS
DUO KRIBO
BIMBO
VINA PANDUWINATA
THE ROLLIES
KEENAN NASUTION
JOCKIE SOERJOPRAJOGO
IAN ANTONO
EUIS DARLIAH
BARONG'S BAND
LEO KRISTI
FRANKY & JANE
ACHMAD ALBAR
BADAI PASTI BERLALU
CLOVER LEAF
FARID HARDJA
TITEK PUSPA
CHRISYE
MOGI DARUSMAN
IWAN FALS
BENYAMIN S
BING SLAMET
NICKY ASTRIA
DE'HAND'S
INDRA LESMANA
GURUH SUKARNO PUTRA
LCLR
JACK LESMANA
ADJI BANDI
EBIE G ADE
ERMY KULIT
IWAN MADJID
DRAKHMA
DEDDY SUTANZAH
DONNY FATAH
PAHAMA
ULLY SIGAR RUSADY
CHASEIRO
EKHSA BHAMA
SWADDHITRA
GITO ROLLIES
SYLVIA SAARTJE
FENOMENA QASIDAH MODERN
EKA SAPTA
MENGENANG LILIS SURYANI
DODO ZAKARIA
EDI SILITONGA
70 Thn TITIK PUSPA
FESTIVAL LAGU POPULER
SOUND TRACK FILM INDONESIA
BAND SATU ALBUM
MATA AIR HARRY RUSLI
KEMBAR GROUP
SYMPHONY
PERJALANAN MUSIK BENNY SUBARDJA
NOOR BERSAUDARA
BHASKARA
PANBERS
ELPAMAS
GRACE SIMON
GRASS ROCK
The MERCY'S
SHARK MOVE
RAFIKA DURI
NO KOES
BLACK SWEET
MUS MULYADI
FAVOURITE'S GROUP
FREEDOM OF RHAPSODIA
JOPIE ITEM
C'BLUES
THE SINGERS

.


ReviewReviewReviewReviewReviewFlower Power In RockMay 19, '08 1:23 AM
for everyone
Category:Music
Genre: Rock
Artist:Band Bandung era 70an
FLOWER POWER IN ROCK
( Sebuah Kenangan Akan Era Keemasan Anak Anak Bandung)

Oleh : MH Alfie Syahrine
Pada era tahun 1970’an di Bandung merupakan pusat seni dan mode di tanah air, para anak muda dan anak band berlomba berambut panjang sampai melebihi panjangnya rambut perempuan seperti Remy Silado, Deddy Dores, Benny Soebardja, Triawan Munaf dll atau yang model kribo seperti Deddy Stanza atau Gito Rollies . Sempat juga rambut panjang tersebut dilarang pihak yang berwajib yang acapkali melancarkan razia rambut gondrong waktu itu Kokamtib ikut ikut pula memberangus rambut gondrong bahkan di TVRI ada aturan aturan memiliki rambut bagi penyanyi atau pemain band pria.
Band-band rock Bandung yang saat itu bermunculan sangat banyak jumlahnya, misalnya Savoy Rhythm, Provist (Progressive Student), Diablo Band, The Players, Happiness, Thippiest, Comets, DD (Djogo Dolok), Jack C’llons, C’Blues, Memphis (yang kemudian menjadi Man Face), Delimas, Rhapsodia, Batu Karang, The Peels, Shark Move Red&White, Topics&Company, The Rollies, Philosophy Gang Of Harry Roesli, Giant Step, Paramour, Finishing Touch, Freedom ,Lizard, Big Brothers dan masih banyak lagi.
Banyak dari mereka yang sukses bahkan bertahan namun tidak sedikit yang bertumbangan ditengah jalan dan ada pula para vokalisnya yang dapat bertahan tetapi berganti genre musiknya bahkan ke Dangdhut!.
RHAPSODIA
Mnurut Ali Gunawan,Rhapsodia, band ini sering bongkar pasang personil, atau retak sehingga pernah ada tiga nama Rhapsodia, atau dengan embel-embel kata Rhapsodia. Seperti :Rhapsodia, Freedom Of Rhapsodia atau Giant Step Of Rhapsodia..
Rhapsodia mula pertama terdiri dari Ute (bas), Alfred (gitar), Ibung (drum), Sondang (keyboard), dan Alam (vokal). Gaya Alam di panggung cukup unik karena bertingkah seperti seekor gorila. Kemudia pada generasi keduanya formasi Rhapsodia terdiri dari : Deddy Dores(vokal&guitar) Dave Tahuhey (saxofon&vokal) Johanes Sarwono (keyboard,sekarang Pengacara) Kikky ( drum) Utte (bass) dan Soleh Sugiarto ex C’Blues (vokal, sekarang anggota DPRD Jabar).
Rhapsodia (1969-1972) yang pada tahun 1971 melempar album pertamanya ”Hilangnya Seorang Gadis” dari album ini mereka secara komersial meraih sukses besar dan melejitkan nama Deddy Dores. Order manggungpun sangat padat karena di Rhapsodia ini Deddy Dores saat itu disebut sebut sebagai Edger Winter-nya Indonesia karena gaya permainannya dan senangnya dia menyanyikan lagu lagu Edger Winter seperti Southern Woman, Free Ride dll adalah motor penggerak hidupnya aksi panggung disamping kelincahan lead vokalnya Soleh Sugiarto yang saat itu disebut sebut sebagai Alice Cooper-nya Indonesia. Ada lima album yang mereka hasilkan sebelum dan sepeninggal Deddy Dores.
Ada dua lagu berbahasa Inggris yang sempat top dari Rhapsodia yaitu I Hear Someone dan Free To Love Another Girl namun band ini setelah melepas satu album sepeninggal Deddy Dores (yang ditarik Iyek ke Godbless) praktis vakum dan setelah itu bubar!.
THE ROLLIES
The Rollies diawali ketika Deddy Sutansyah bertemu dengan Iwan Krisnawan dan Teuku Zulian Iskandar Madian dari grup Delimars serta Delly Djoko Alipin dari grup Genta Istana. Deddy mengajak mereka bergabung dalam sebuah grup yang diberi nama Rollies pada bulan April 1967. Orangtua Deddy yang pengusaha hotel menjadi penyandang dana dan menyediakan semua peralatan musik yang diperlukan. Rollies mulai malang melintang di negeri sendiri dengan membawakan lagu-lagu The Beatles, Bee Gees, Hollies, Marbles, Beach Boys, Herman Hermits, juga lagu populer dari Tom Jones dan Englebert Humperdink.
Ketika awal grup ini terbentuk, Deddy Stanzah dan kawan- kawan senantiasa berusaha berinovasi, antara lain dengan mengajak pemusik "sekolahan" Benny Likumahuwa yang mahir membaca not balok dan menulis aransemen. Menambah orkestrasi dalam pertunjukan dan ketika mendampingi grup asal Amerika, No Sweat, di Istora Senayan tahun 1974, mereka menambah aransemen musiknya dengan tabuhan gamelan yang dimainkan anggota Rollies sendiri. Seperti yang mereka lakukan dipesta musik ala woodstock ”Summer 28,1973” di Ragunan Instruktur gamelannya tidak lain Benny Likumahuwa. Sampai sekarang Rollies tidak pernah bubar meskipun anggota yang tersisa tinggal Gito, Benny, Utje, Jimmy, Didit, dan Iskandar.
Dengan formasi ini The Rollies semakin kokoh bahkan menjadi band pembuka konser Bee Gees 2 April 1972 di Istora Senayan serta Shocking Blue 23 Juli 1972 di Taman Ria Monas dan grup asal Amerika, No Sweat, di Istora Senayan tahun 1974 pengakuan bahwa Rollies adalah Chicago van Bandung karena hampir semua lagu populer grup asal Amerika itu mereka bawakan di atas panggung: Saturday in The Park, Just You and Me, Old Days, Wishing You were Here, Harry Truman, Call on Me, di samping lagu-lagu Blood Sweat and Tears, Spinning Wheel, Hi Di Ho, serta lagu-lagu grup Yes, Fire Bird, James Brown It’s A Man’s Man’s World, atau Getsemane dari soundtrack film Jesus Christ Superstar, yang diproduksi tahun 1973 dan diangkat dari drama musikal populer di Broadway.
Meski sering cekcok di belakang panggung, jika sudah berhadapan dengan penonton, mereka menjadi sebuah grup yang tampil sangat kompak dan hampir selalu tampil dengan pakaian rapi. Perancangnya tiada lain adalah Deddy Stanzah. Mereka juga dikenal royal dan suka melemparkan pakaian yang dikenakan kepada penonton.
Kebesaran nama Rollies diakui Jimmy Manoppo dan Utje F Tekol yang menyatakan pada awalnya bertanya-tanya apa betul mereka sudah menjadi anggota Rollies. Ketika pertama kali tampil, keduanya bahkan gemetaran dan keringatan. Untuk menjadi anggota Rollies, mereka harus menyingkirkan puluhan pelamar lainnya.
Sepanjang perjalanannya, Rollies menghasilkan 15 PH/album rekaman. Tahun 1971 di Philips dan EMI, dua PH dan satu PH mengiringi Aida Mustafa. 1972-1975 di Remaco tiga PH (masuk masa kaset) yang antara lain melahirkan lagu Salam Terakhir karya Iwan Krisnawan dan Setangkai Bunga (Iskandar). Tahun 1976-1979 di Musica Studio’s lima album yang menelurkan lagu-lagu Keadilan, Hari Hari, dan Kemarau. Lagu Kemarau yang sama sekali tidak diperhitungkan baru dikeluarkan dari "peti es" tahun 1979 meskipun selesai dikerjakan tahun 1977 serta ada beberapa lagu berbahasa Inggeris yang tambah melambungkan nama The Rollies antara lain : Sign Of Love dan The Love Of A woman bahkan Gone are the Song of Yesterday sampai masuk Top Ten di radio Australia diawal tahun 70’an sedangkan Gito menyanyikan; It’s a Man’s Man’s World, I Feel Good dll yang kemudian memang sering dibawakan Rollies dan masterpiece dari Rollies, berjudul Kemarau, karya pemetik gitar basnya, Utje F Tekol, yang berdarah Manado, Ambon, Jawa, dan Belgia, tapi bangga sebagai warga Bandung serta perilakunya juga sangat sunda sekali. Lagu ini memperoleh penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim tahun 1979. Lagu Rollies populer lainnya adalah Salam Terakhir, Hari Hari, Astuti, dan Setangkai Bunga
Selain Kemarau dan Hari Hari, yang lainnya diambil dari Titiek Puspa, Bimbi atau Anto. Kau Yang Kusayangi, Keadilan.Melihat kenyataan itu, pada akhirnya Benny memutuskan mundur dan meninggalkan Rollies. Padahal, sebagai penata musik, Benny sudah memperlihatkan kebolehannya dalam Salam Terakhir dan Setangkai Bunga. Setelah Benny menarik diri, Rollies masih menghasilkan empat album: Dunia Dalam Berita (1983), Astuti (1984), Problema (1985), dan Iya kan? (1990).
Waktu terus berjalan, walaupun menyandang julukan grup brass-rock nomor satu, ketika menggarap lima album rekaman di Musica Studio’s, Rollies mengalami masa stagnasi. Nyaris tidak terlihat usaha mereka untuk menghasilkan lagu-lagu yang baik dan musik yang mereka kerjakan terkesan dibuat tidak seserius sebagaimana menyiapkan diri untuk tampil dalam sebuah pertunjukan. Sementara grup musik baru bermunculan seperti Krakatau, Halmahera, dan Karimata dengan kualitas musik yang mengagumkan ternyata tidak menggugah personel Rollies. nampaknya The Rollies-pun mulai letih mereka terkesan terkena penyakit post-power sindrom.
Tahun demi tahun berlalu, selain memiliki sebuah butik dan peralatan musik, Rollies juga sempat punya sebuah panggung berjalan yang mereka gunakan dalam perjalanan pertunjukan turnya di sejumlah kota. Semuanya habis begitu saja. Begitu juga penghasilan yang termasuk sangat besar nominalnya yang diperoleh anggota Rollies nyaris tidak berbekas. Benny Likumahuwa, yang sekarang berusia 58 tahun, mengaku rumah yang didiaminya sekarang justru dia peroleh dengan bermain musik jazz.
Gito menyatakan hal yang sama. Apa yang dia peroleh sekarang adalah hasil sebagai pemain sinetron dan bersolo karier sebagai penyanyi. Pria kelahiran Biak, Irian Jaya, 3 November 1946, ini sekarang aktif sebagai pembawa ceramah rohani untuk kaum muda dalam usahanya menyadarkan mereka akan bahaya narkoba.
THE PEELS
The Peels merupakan salah satu band bandung yang sukses walaupun aktivitas bermusik “The Peels” tidaklah panjang,namun demikian group ini telah menjadi bagian penting perkembangan musik Indonesia yang mampu menembus negeri tetangga, yaitu Singapura dan Malaysia. “The Peels” pertama kali didirikan tahun 1966 oleh Benny Soebardja( yang saat itu disebut sebut sebagai Alvin Lee-nya Indonesia) bersama Gumilang Kentjana Putra, Budhi Sukma Garna (Buce) dan Dedy Budhiman Garna. Keahlian bermusik mereka diekspresikan dari panggung ke panggung dikawasan Jawa Barat.
Sementara itu, kiprah mereka di negara tetangga Singapura bermula ketika para personil “The Peels” berlibur di negeri Singa itu pada tahun 1967. Dalam masa liburan itu mereka diundang tampil dalam pertunjukkan musik bertajuk “Panggung Negara”. Penampilannya yang menawan memikat penonton di Singapura, sehingga mereka tidak saja tampil di pertunjukkan “Panggung Negara”, tetapi tampil pula di ajang lain diantaranya di Wisma House, National Theatre, “Hotel Singapura Intercontinental”, bahkan tampil di TV dan Radio Singapura.
Karena kesuksesan pertunjukkannya itu, “The Peels” pun ditawari untuk rekaman, maka meluncurlah sebuah album dengan bintang tamu “Karliana Kartasa G” berjudul The Peels By Public Demand in Singapore. Album yang direkam dalam format piringan hitam itu, kini menjadi salah satu bukti bahwa jaman dulupun group Indonesia telah berkiprah di luar negeri atau istilahnya Go International. Sangat disayangkan untuk saat ini melacak keberadaan album tersebut di Indonesia sangat sulit, kalaupun ada tentunya hanya beberapa orang kolektor saja yang memiliki album itu.
Di tahun 1967, seorang personil masuk menambah formasi The Peels, yaitu “Soman Loebis”. Masuknya dia telah membawa warna baru bagi The Peels dengan bertambahnya genre musik yang dibawakan, tidak hanya pop tetapi juga rock dan Psychedelic. Dengan formasi terbarunya yang menjadi 5 orang ini, The Peels dikontrak secara permanen oleh management restoran Sea Dragon sebuah floating restoran (restoran terapung/diatas kapal). Lagu-lagu yang dibawakan pada saat mengisi acara di restoran itu adalah lagu-lagu milik The Beatles, John Mayall and Bluesbreaker, Jimi Hendrix serta lagu milik group-group psychedelic. Aktivitas bermusik The Peels juga merambah Kualalumpur, Malaysia. Di Hotel Eldorado Night Club mereka sempat melakukan pertunjukkan, namun tidak lama karena ada pertikaian rasial saat itu sehingga memaksa The Peels hengkang dari negara itu dan kembali lagi ke Singapura.
Jenuh dengan petualangan di negeri seberang, tahun 1968 The Peels pulang ke tanah air dan melakukan sejumlah konser di beberapa kota besar seperti Makasar, Palembang, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan tentunya Bandung. Lagu-lagu cover version milik group luar masih sering dibawakan dalam setiap pertunjukkannya. Namun sayang,The Peels pun bubar pada tahun 1969 tanpa dapat mengorek keterangan yang jelas, namun manajemen yang buruk dan telalu banyak ikut campur tangannya Reny Asmara sang Boss, ikut pula sebagai penyumbang masuk kuburnya The Peels .
SHARK MOVE
Benny Soebardja yang masih sangat fit saat itu selepas dari The Peels, segera dia membentuk ”Shark Move” yang terdiri dari :Benny Soebardja (vokal, gitar,pengusaha furniture yg sukses)Soman Loebis(keyboard,almarhum),“Bhagu Ramchand” (vokal,almarhum), “Sammy Zakaria” (drum, sekarang Ustadz di Lampung) dan “Janto Diablo” (bass). Setahun kemudian (1970) direlease album perdana “Ghede Chokras”. Corak musik Sharkmove adalah musik rock dengan sentuhan progressive yang kental. Warna musik progressive mereka sangat kentara di lagu “My Life”. Lagu berdurasi 9 menit ini kaya dengan chord-chord yang menawan. Lagu My Life tidak saja lagu terbaik di album Sharkmove Ghede Chokras, tetapi juga salah satu lagu rock Indonesia terbaik hingga saat .Namun sayang. lagi lagi band yang berkualitas ini pun bubar juga karena perbedaan visi dan prinsif serta manajemen yang tidak jelas.
Anehnya dibulan Maret tahun 2007 yang lalu , Shark Move go Internasional (dari hasil usaha fan fanatiknya Benny Soebardja bernegosiasi dengan fihak produser luar merilis ulang dengan perbaikan kualitas suaranya)dan albumnya diedarkan oleh Shadocks Jerman yang didalam resensinya Shark Move disebut sebut sebagai “As pure & Complex as British Prog Rock Band during the beginning of 70’s” .
GIANT STEP
Bubarnya Sharkmove tidak membuat hasrat seorang Benny Soebardja bermusik surut, tetapi justru memicunya untuk membuat group baru bernama “Giant Step” dengan membawa seorang personil ex-Sharkmove yaitu Sammy Zakaria di tahun 1973. Adapun formasi pertama Giant Step adalah Benny Soebardja (gitar), Deddy Sutansyah (bass), Sammy Zakaria (drum) dan Yongkie atau Jocky Soerjoprayogoyang baru saja cabut dari Godbless (keyboard). Nama Giant Step sendiri, menurut Benny, diambil dari sebuah stiker yang menempel di bungkus gitar milik Remy Sylado. Ceritanya, Benny, Yockie Soeryoprayogo, Deddy Stanzah (mantan Rollies), dan Sammy Zakaria (mantan drummer Shark Move) pada tahun 1973 hendak manggung di kampus ITB. Namun, ketika itu belum ada nama untuk band mereka.
Lalu Benny yang melihat stiker itu langsung mengusulkan nama Giant Step. Dan sejak itu Giant Step, yang dimanajeri Gandjar Suwargani (pemilik Radio OZ Bandung), secara resmi diproklamasikan.
Di awal kariernya Giant Step lebih banyak membawakan lagu-lagu milik Emerson Lake and Palmer (ELP). Ketika Giant Step berusaha eksis dengan formasi perdananya, tetapi tidak lama kemudian pada tahun 1974 dengan tidak disangka-sangka, Yockie, Sammy Zakaria dan Deddy Stanzah keluar dari Giant Step maka formasi Giant Step mengalami perubahan karena Yockie hengkang dan bermigrasi ke Malang membuat group band Double Zero, maka kedudukannya diganti oleh Deddy Dores yang pulang kampung selepas dari Godbless, begitu juga dengan Deddy Sutansyah diapun cabut dari Giant Step dan digantikan oleh Adhy Haryadi dari Menstreal Medan.
kemudian posisi Sammy Zakaria digantikan oleh Janto Sudjono ex Drummer Harry Rusli,.Janto bisa di katagorikan sejajar dengan Fuad Hassan dari kehebatan permainannya namun rovel rovelnya lebih rapih dan terarah sebagaimana puji Martha Burhan dari majalah musik TOP . Dengan formasi barunya, Giant Step masih membawakan lagu-lagu milik orang tetapi tidak Emerson Lake and Palmer saja, melainkan mulai merambah membawakan lagu-lagu Deep Purple dan pengaruh Gentle Giant mulai terasa.
Formasi ini diuji coba pada peringatan 100 hari meninggal Soman Lubis dan Fuad Hassan di Istora Senayan pada tahun 1974, pada saat itu yang tampil adalah Godbless formasi baru dan Giant Step. AKA yang direncanakan datang absent saat itu. Penulis sendiri menyaksikan acara itu.
Pada tahun 1975 Giant Step memulai era bermusiknya dengan menampilkan double guitarist dengan masuknya “Albert Warnerin” gitaris dari Gang Of Harry Rusli”.
Dengan formasi ketiga ini, Giant Step mulai aktif menciptakan lagu dan konser-konser di berbagai kota. Album pertama Giant Step dirilis dipenghujung tahun 1975 dengan judul “Giant Step Mark-1” dibawah label Lucky Record. Lewat album perdananya, Giant Step mampu mengukuhkan namanya menjadi salah satu supergroup band Indonesia yang sejajar dengan Godbless, AKA atau SAS seperti pendapat Martha Burhan yang sangat mengagumi Giant Step saat itu!.
Giant Step Mark I menciptakan lagu lagunya sendiri dengan karakter khusus, lagu lagu mereka antara lain : Childhood And The Seabird,keep a smile, Far Away, Forfunate Paradise, My Life, dll dengan selipan beberapa lagu yang mellow yang dipersiapkan oleh Deddy Dores sebagai pakarnya..
Giant Step baru melahirkan komposisi yang sungguh-sungguh bernuansa musik rock progresif pada album kedua, ketiga, dan keempat, yaitu Giant On The Move! (1976), Kukuh Nan Teguh (1977), dan Persada Tercinta (1978). Semua lagu, baik lirik maupun musiknya, yang terdapat dalam ketiga album itu tergolong berani. Pasalnya, mereka sama sekali tidak berkompromi dengan selera pasar yang ketika itu masih didominasi lagu-lagu pop cinta remaja ala The Mercy’s dan Favourites Group.
Lagu-lagu yang terdapat di album Giant On The Move! bahkan semua liriknya ditulis dalam bahasa Inggris. Mereka mengangkat tema-tema sosial dan politik serta lingkungan, seperti Liar, Decisions, Waste Time, dan Air Pollution.
Di album ini formasi Giant Step mengalami perubahan, di mana posisi Deddy Dores (yang keluar karena membentuk Superkid dengan Jelly Tobing dan Deddy Sutansyah) digantikan oleh Triawan Munaf dan posisi Yanto Sudjono digantikan oleh Haddy Arief. Triawan dan Haddy adalah mantan anggota Lizard, salah satu band rock Bandung yang pernah mendukung proyek solo Benny dalam album Benny Soebardja & Lizard (1975).
Masih dengan formasi yang sama, pada tahun 1977 Giant Step merilis album Kukuh Nan Teguh yang, berbeda dengan album sebelumnya, berisi 11 lagu berlirik Indonesia. Di album ini pula untuk pertama kalinya mereka memasukkan unsur lagu tradisional dan dua lagu instrumental (Dialog Tanya dan Dialog Jawab), yang sekaligus menunjukkan kepiawaian para personelnya, khususnya raungan gitar Albert, menurut Riza Sihbudi permainan keyboard Triawan yang untuk masa itu bisa dibilang luar biasa.
Kendati sangat dipengaruhi band-band progresif luar, musik Giant Step sesungguhnya lebih orisinal. Itu setidaknya jika dibandingkan dengan God Bless, yang sempat mengambil potongan lagu Firth Of Fifth karya Genesis di lagu Huma Di Atas Bukit.
Nama Giant Step memang tidak sefenomenal dan melegenda seperti halnya God Bless. Namun, grup era 1970-an Band yang satu ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya band rock Indonesia pada masa itu yang paling tidak suka membawakan lagu-lagu orang lain.
Dengan kata lain Giant Step merupakan band rock yang berani "melawan arus" pada masa itu. Ketika band-band rock pribumi lain gemar membawakan lagu-lagu karya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Grand Funk Railroad, Giant Step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri.
"Saat itu membawakan lagu sendiri dianggap aneh," kata Triawan Munaf, mantan pemain keyboard Giant Step, yang juga sepupu Fariz RM dan ayah kandung penyanyi remaja Sherina. Namun, itulah kelebihan dan sekaligus trademark Giant Step.
Mereka juga termasuk band rock yang lumayan produktif. Setidaknya ada tujuh album yang dihasilkan dalam kurun waktu 1975-1985. Tentu bukan hanya itu, Giant Step pun termasuk dari sedikit band rock pribumi yang berkiblat pada jenis musik progresif (yang pada masa itu lebih sering disebut sebagai art rock) yang diusung grup-grup Inggris, seperti King Crimson, Jethro Tull, Pink Floyd, Gentle Giant, Yes, Genesis, dan ELP (Emerson, Lake, and Palmer).
JIKA The Beatles memiliki "dwitunggal" Paul McCartney dan John Lennon, Stones dengan Mick Jagger dan Keith Richards, atau Zeppelin dengan Robert Plant dan Jimmy Page, Giant Step pun memiliki "dwitunggal" yang bisa dianggap sebagai roh atau nyawa bagi grupnya, yaitu Benny Soebardja dan Albert Warnerin. Benny dan Albert dikenal sebagai pemain gitar dan penulis lagu yang produktif Sebagaimana Benny, Albert yang disebut sebut sebagai Jeff Back nya Indonesia termasuk salah seorang musisi andal asal Kota Kembang itu yang kemampuannya dapat disejajarkan dengan Ian Antono dan Sunatha Tanjung. Di samping gitar, ia juga menguasai beberapa alat musik lainnya, antara lain flute. Albert juga banyak terlibat dalam solo album Benny Soebardja, Superkid dan Iin Parlina.
Setelah mengalami pasang surut ,gonta ganti pemain dan vakum yang lumayan lama pada tahun 1983 mereka bangkit kembali dan manggung dengan band band rock lainnya di panggung musik majalah VISTA di Taman Ria Remaja Senayan dengan formasi : Benny Soebardja, Uce F Tekol, Albert Warnerin, Triawan Munaf, Erwin Badudu dan Jelly Tobing dan dua tahun kemudian pada bulan Juni mereka merilis album Geregetan (1985).
Di album ini Giant Step tidak lagi sepenuhnya menyajikan warna musik progressive era 1970-an. Apalagi, kata Triawan, "Produsernya minta agar kita memasukkan sebuah lagu unggulan yang komersial." Toh, waktu itu mereka sempat tampil di TVRI membawakan lagu Geregetan dan Panggilan Jiwa.
Perjalanan Giant Step berakhir setelah mereka ikut tampil di acara demo solo drum Jelly Tobing pada tahun 1992. Berbagai upaya baik itu dari para fan yang cinta pada GS maupun para personilnya untuk menyatukan kembali mereka,namun tak kunjung berhasil.Berita angin mengatakan adanya perselisihan pribadi yang sulit didamaikan antara mantan "dwitunggal" Benny dan Albert Warnerin adalah sebagai salah satu penyebab terjadinya perpecahan ini .
Rupanya, fenomena dua tokoh kunci dalam satu band rock yang sulit disatukan kembali, tidak hanya dimonopoli grup-grup dunia seperti Lennon berkonfrontasi dengan McCartney (The Beatles), Roger Waters kontra David Gilmour (Pink Floyd), atau Ian Gillan melawan Ritchie Blackmore (Deep Purple).
Ada berita terbaru (25 April 2007) dari Ali Gunawan, sang raja diraja kolektor dari KPMI bahwa album Giant Step Mark I dan Giant On The Move akan di release di Jerman oleh Shadocks juga.
TRIO SUPERKID
Deddy Dores setelah hengkang dari Giant Step bersama Deddy Sutansyah yang kemudian merubah namanya menjadi Deddy Stanzah yang telah keluar dari Rollies serta Jelly Tobing yang urung menggantikan posisi Teddy Sujaya sebagai drummer di God Bless membentuk Superkid dengan Denny Sabri sebagai dokter bedah dan manajernya (ini adalah debut pertama bagi Denny Sabri sebagai manajer sebuah supergroup lokal)
Superkid mendulang sukses yang luar biasa kalau tidak mau dikatakan fenomenal. Demam Superkid terjadi dimana-mana terutama para penggemar musik rock di Jawa Barat mulai dari Bandung hingga pelosok-pelosok desa demam Superkid ini semua berkat strategi promosi yang sangat profesional dari Denny Sabri dengan majalah Aktuilnya bahkan wartawan Sondang Napitupulu almarhum karena saking salutnya ketika menyaksikan pagelaran Superkid Pertama di TIM terutama ketika permainan Jelly Tobing pada lagu How (hingga stick drum-nya patah!)dia sampai berteriak ”Hidup Superkid! , Hidup Batak!”(karena Jelly Tobing Batak !) Album-albumnya yang yang banyak menggunakakan bahasa Inggris yaitu : Trouble Maker dan Dezember Break .Superkid memiliki lagu-lagu andalan yang sering mereka nyanyikan dipanggung antara lain: Trouble Maker, Sixty Years On, How, Blue Light City , I Saw Her Standing There dll keunggulan Superkid ini terletak dari gaya panggung Deddy Stanzah yang memikat disamping accent Inggrisnya yang nyaris seperti bule.
Tapi seperti istilah Bens Leo katakan ; Superkid akhirnya tewas juga !, pada tahun 1978, setelah menghasilkan lagu hit 'Gadis Bergelang Emas' karena salah atur/mismanajemen atau mungkin Denny Sabri sudah lebih konsentrasi dalam menggarap penyanyi-penyanyi solo baru.
PHILOSOPHY GANG OF HARRY RUSLI
Harry Roesli bernama lengkap Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli, adalah tokoh dikenal melahirkan budaya musik kontemporer yang berbeda, komunikatif dan konsisten memancarkan kritik sosial. Karya- karyanya konsisten memunculkan kritik sosial secara lugas dalam watak musik teater lenong. Harry berpenampilan khas, berkumis, bercambang, berjanggut lebat, berambut gondrong dan berpakaian serba hitam. Lahir di Bandung, 10 September 1951, Pada awal 1970-an, namanya sudah mulai melambung. Saat membentuk kelompok musik Gang of Harry Roesli bersama Albert Warnerin, Indra Rivai, Harry Pochan, Janto Sudjono dan Janto Diablo mereka sempat membuat album yang penomenal diawal tahun 70’an yang lagu lagu terkenalnya terdiri antara lain ”Peacock Dog, ”Don’t Talk About Freedom” malaria, ”Borobudur” dll.
Di tengah kesibukannya bermain band, dia pun mendirikan kelompok teater Ken Arok, 1973. Setelah melakukan beberapa kali pementasan, antara lain, Opera Ken Arok di TIM Jakarta pada Agustus 1975, grup teater ini kemudian bubar, karena Harry mendapat beasiswa dari Ministerie Cultuur, Recreatie en Maatschapelijk Werk (CRM), belajar ke Rotterdam Conservatorium, Belanda.
Menurut penuturan Theodore KS, selama belajar di negeri kincir angin itu, Harry juga aktif bermain piano di restoran-restoran Indonesia dan main band dengan anak-anak keturunan Ambon di sana. Selain untuk menyalurkan talenta musiknya sekaligus untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya yang tidak mencukupi dari beasiswa.
Gelar Doktor Musik diraihnya pada tahun 1981, kemudian selain tetap berkreasi melahirkan karya-karya musik dan teater, juga aktif mengajar di Jurusan Seni Musik di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Pasundan Bandung.
Dia ini juga kerap membuat aransemen musik untuk teater, sinetron dan film, di antaranya untuk kelompok Teater Mandiri dan Teater Koma. Juga menjadi pembicara dalam seminar-seminar di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri, serta aktif menulis di berbagai media, salah satunya sebagai kolumnis Kompas Minggu.
Selain itu juga membina para seniman jalanan dan kaum pemulung di Bandung lewat Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) yang didirikannya. Rumahnya di Jl WR Supratman 57 Bandung dijadikan markas DKSB. Rumah inilah yang pada tahun 1998 menjadi pusat aktivitas relawan Suara Ibu Peduli di Bandung. Rumah ini ramai dengan kegiatan para seniman jalanan dan tempat berdiskusi para aktivis mahasiswa. Dimana kerap lahir karya-karya yang sarat kritik sosial dan bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan Orde Baru. Bersama DKSB dan Komite Mahasiswa Unpar, Harry Roesli mementaskan pemutaran perdana film dokumenter Tragedi Trisakti dan panggung seni dalam acara "Gelora Reformasi" di Universitas Parahyangan [1]. Dalam acara ini kembali dinyanyikan lagu Jangan Menangis Indonesia dari album LTO (Lima Tahun Oposisi), Musica Studio, 1978.
Setelah reformasi, saat pemerintahan BJ Habibie, salah satu karyanya yang dikemas 24 jam nonstop juga nyaris tidak bisa dipentaskan. Juga pada awal pemerintahan Megawati,lagi lagi Harry buat ulah, dia sempat diperiksa Polda Metro Jaya gara-gara memelesetkan lagu wajib Garuda Pancasila.

Note:
Artikel ini ditulis sebelum Kang Denny Sabri, Kang Deddy Stanzah, Kang Delly, Kang Bonny dan Kang Gito wafat.
Thanks to:
Mr Riza Sihbudi
Mr Ali Gunawan
Mr Theodore KS
Mr Bens Leo
Karena tulisan–tulisan beliau-beliau diatas tersebut saya dapat menyusun sejarah yang sangat berharga akan kiprah musik rock anak-anak Bandung di jaman kejayaannya dulu itu.





ReviewReviewReviewReviewReviewDISKOGRAFIApr 8, '08 9:24 PM
for everyone
Category:Music
Genre: Pop
Artist:KOES BERS & KOES PLUS
Disusun oleh : WASIS SUSILO/KPMI

DISKOGRAFI KOES BERS
1. SINGLE Dara Manisku, Jangan Bersedih, Dewi Rindu, Sikancil Mar-62 IRAMA
2. SINGLE Selamat Berpisah & Selalu Mar-62 IRAMA
3. SINGLE Harapanku & Kuduslah CintaMu Mar-62 IRAMA
4. SINGLE Pagi Yang Indah, Oh Kau Tahu Mar-64 IRAMA
5. SINGLEe Aku Rindukan KasihMu & Angin Laut Mar-64 IRAMA
6. SINGLE Bis Sekolah & Gadis Puri Mar-64 IRAMA
7. SINGLE Aku Rindu &Senja Mar-64 IRAMA
8. SINGLE Mistery Is Over dan Tell Me (Richard Watt / Rolling Stone) Mar-64 IRAMA
9. SINGLE Oh Kau Tahu, Pagi Yang Indah, Aku Rindu, & Awan Putih Mar-64 IRAMA
10. SINGLE Angin Laut, Aku Rindukan Kasihmu, Bis Sekolah Gadis Puri Mar-64 IRAMA
11. SINGLE Dara Berpita, Untuk Ibu, Bintang Kecil dan Di Pantai Bali Mar-64 IRAMA
12. KOES BERS ANGIN LAUT 1962-1964 IRAMA
13. KOES BERS TO THE SO CALLED THE GUILTIES Mei-67 DIMITA MOLDING LTD
14. KOES BERS JADIKAN AKU DOMBAMU Jan-67 DIMITA MOLDING LTD
15. KOES BERS SERI PERDANA KEMBALI Jan-77 REMACO
16. KOES BERS POP JAWA VOLUME 1 Mar-77 REMACO
17. KOES BERS POP KERONCONG VOLUME 1 Mei-77 REMACO
18. KOES BERS VOLUME 2 Des-77 REMACO
19. KOES BERS BOLEH CINTA BOLEH BENCI Jul-79 PURNAMA RECORD
20. KOES BERS 80 GLODOK PLAZA BIRU Agust-80 PURNAMA RECORD
21. KOES BERS 86 Mei-86 FLOWER SOUND
22. KOES BERS 87 KAU DATANG LAGI Feb-87 FLOWER SOUND
23. KOES BERS 87 POP JAWA Apr-87 FLOWER SOUND
24. KOES BERS 87 POP ANAK ANAK Apr-87 FLOWER SOUND
25. KOES BERS HAPPY BIRTHDAY Apr-87 FLOWER SOUND
26. KOES BERS 87 BOSSAS Agust-87 FLOWER SOUND
27. KOES BERS 87 POP BATAK Agust-87 FLOWER SOUND
28. KOES BERS 87 INSTRUMENTALIA BOSSAS Agust-87 FLOWER SOUND
29. KOES BERS MILIK ILAHI Agust-88 FLOWER SOUND
30. KOES BERS POP BATAK VOL. 2 Mar-00 NEW METRO
31. KOES BERS POP JAWA TAHUN 2000 Mar-00 BLACK BOARD

DiISKOGRAFI KOES PLUS
1 KOES PLUS VOLUME 1 Nop-69 DIMITA MOLDING LTD
2 KOES PLUS VOLUME 2 Apr-70 DIMITA MOLDING LTD
3 KOES PLUS VOLUME 3 Jan-71 DIMITA MOLDING LTD
4 KOES PLUS VOLUME 4 BUNGA DI TEPI JALAN Agust-71 DIMITA MOLDING LTD
5 KOES PLUS VOLUME 5 Des-71 DIMITA MOLDING LTD
6 KOES PLUS VOLUME 6 Feb-72 DIMITA MOLDING LTD
7 KOES PLUS NATAL 1972 Nop-72 DIMITA MOLDING LTD
8 KOES PLUS VOLUME 7 Jan-73 REMACO
9 KOES PLUS VOLUME 8 Jul-73 REMACO
10 KOES PLUS VOLUME 9 Nop-73 REMACO
11 KOES PLUS VOLUME 10 Nop-73 REMACO
12 KOES PLUS NATAL 1973 Nop-73 REMACO
13 KOES PLUS POP ANAK-ANAK VOLUME 1 Des-73 REMACO
14 KOES PLUS POP JAWA VOLUME 1 Feb-74 REMACO
15 KOES PLUS VOLUME 8 (INSTRUMENTAL) Mar-74 REMACO
16 KOES PLUS VOLUME 9 (INSTRUMENTAL) Mar-74 REMACO
17 KOES PLUS THE BEST OF KOES Mei-74 REMACO
18 KOES PLUS THE BEST OF KOES Mei-74 REMACO
19 KOES PLUS POP KERONCONG VOLUME 1 Mei-74 REMACO
20 KOES PLUS POP KERONCONG VOLUME 2 Jul-74 REMACO
21 KOES PLUS VOLUME 11 Jul-74 REMACO
22 KOES PLUS VOLUME 12 Jul-74 REMACO
23 KOES PLUS VOLUME 13 Jul-74 REMACO
24 KOES PLUS POP JAWA VOLUME 2 Agust-74 REMACO
25 KOES PLUS POP JAWA VOL 1 (INSTRUMENTAL) Agust-74 REMACO
26 KOES PLUS VOLUME 10 (INSTRUMENTAL) Agust-74 REMACO
27 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 1 Agust-74 REMACO
28 KOES PLUS POP JAWA VOL 2 (INSTRUMENTAL) Agust-74 REMACO
29 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 1 (INSTRUMENTAL) Agust-74 REMACO
30 KOES PLUS THE BEST OF KOES (INSTRUMENTAL) Sep-74 REMACO
31 KOES PLUS THE BEST OF KOES (INSTRUMENTAL) Sep-74 REMACO
32 KOES PLUS VOLUME 11 (INSTRUMENTAL) Okt-74 REMACO
33 KOES PLUS POP KERONCONG VOLUME 1 (INTRUMENTAL) Okt-74 REMACO
34 KOES PLUS QASIDAH VOLUME 1 Nop-74 REMACO
35 KOES PLUS NATAL Nop-74 REMACO
36 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 2 Jan-75 REMACO
37 KOES PLUS ANOTHER SONG FOR YOU Jun-75 REMACO
38 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 3 Jun-75 REMACO
39 KOES PLUS POP ANAK-ANAK VOLUME 2 Jul-75 REMACO
40 KOES PLUS POP JAWA VOLUME 3 Jul-75 REMACO
41 KOES PLUS SELALU DIHATIKU Agust-75 REMACO
42 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 2 (INSTRUMENTAL) Sep-75 REMACO
43 KOES PLUS VOLUME 12 (INSTRUMENTAL) Sep-75 REMACO
44 KOES PLUS VOLUME 13 (INSTRUMENTAL) Okt-75 REMACO
45 KOES PLUS VOLUME 14 Jan-76 REMACO
46 KOES PLUS POP JAWA MELAYU Feb-76 REMACO
47 KOES PLUS IN CONCERT Mar-76 REMACO
48 KOES PLUS HISTORY OF KOES BROTHERS Jul-76 REMACO
49 KOES PLUS IN HARD BEAT VOLUME 1 Agust-76 REMACO
50 KOES PLUS POP KERONCONG VOLUME 3 Okt-76 REMACO
51 KOES PLUS POP MELAYU VOLUME 4 Okt-76 REMACO
52 KOES PLUS IN HARD BEAT VOLUME 2 Nop-76 REMACO
53 KOES PLUS IN FOLK SONG VOLUME 1 Nop-76 REMACO
54 KOES PLUS 78 BERSAMA LAGI Jun-78 PURNAMA RECORD
55 KOES PLUS 78 MELATI BIRU Okt-78 PURNAMA RECORD
56 KOES PLUS 78 POP MELAYU CUBIT CUBITAN Des-78 PURNAMA RECORD
57 KOES PLUS 79 MELEPAS KERINDUAN Mar-79 PURNAMA RECORD
58 KOES PLUS 79 BERJUMPA LAGI Mei-79 PURNAMA RECORD
59 KOES PLUS 79 POP MELAYU Sep-79 PURNAMA RECORD
60 KOES PLUS 79 AKU DAN KEKASIHKU Nop-79 PURNAMA RECORD
61 KOES PLUS 80 JERITAN HATIKU Feb-80 PURNAMA RECORD
62 KOES PLUS 81 ALBUM GOLDEN LOVE SONGS KOESPLUS Feb-81 PURNAMA RECORD
63 KOES PLUS 81 SEDERHANA BERSAMAMU Apr-81 PURNAMA RECORD
64 KOES PLUS 81 ASMARA Mar-81 USAHA REMAJA
65 KOES PLUS 81 POP MELAYU OKE BOSS Mei-81 USAHA REMAJA
66 KOES PLUS 81 KOPERASI NUSANTARA Jul-81 USAHA REMAJA
67 KOES PLUS MEDLEY 13 TH KARYA KOES PLUS Sep-81 USAHA REMAJA
68 KOES PLUS MEDLEY DANKDHUT 13 TH KARYA KOES PLUS Sep-81 USAHA REMAJA
69 KOES PLUS 82 POP KERONCONG Mei-82 ASIA RECORD
70 KOES PLUS REARRANGE I & II Mar-83 MUTIARA
71 KOES PLUS 83 DADADADA Jun-83 PRATAMA RECORD
72 KOES PLUS 84 ANGIN SENJA & GELADAK HITAM Mei-84 PUSPITA RECORD
73 KOES PLUS 84 PALAPA Des-84 AKURAMA RECORD
74 KOES PLUS ALBUM NOSTALGIA PLATINUM 1 Okt-84 RATOSAN
75 KOES PLUS ALBUM NOSTALGIA PLATINUM 2 Okt-84 RATOSAN
76 KOES PLUS ALBUM NOSTALGIA PLATINUM 3 Okt-84 RATOSAN
77 KOES PLUS ALBUM NOSTALGIA PLATINUM 4 Okt-84 RATOSAN
78 KOES PLUS ALBUM NOSTALGIA PLATINUM 5 Okt-84 RATOSAN
79 KOES PLUS ALBUM SEJARAH KOES BERSAUDARA Okt-84 RATOSAN
80 KOES PLUS ALBUM INSTRUMENTALIA Okt-84 RATOSAN
81 KOES PLUS POP MEMBLE Mei-85 PUSPITA RECORD
82 KOES PLUS 85 GANJA KELABU Sep-85 FLOWER SOUND
83 KOES PLUS 87 LEMBAH DERITA Apr-87 FLOWER SOUND
84 KOES PLUS 87 CINTA DI BALIK KOTA Agust-87 FLOWER SOUND





ReviewReviewReviewReviewReviewAwal Munculnya dan Perjalanan. Apr 7, '08 5:31 AM
for everyone
Category:Music
Genre: Classic Rock
Artist:INDO POP PROGRESSIVE
AWAL MUNCULNYA DAN PERJALANAN
INDO POP PROGRESSIVE
Oleh : MH Alfie Syahrine/KPMI


Memang susah bila kita mencari suatu permulaan darimana dan kapan permulaan itu terjadi seperti halnya musik Indo pop progressive tapi saya lebih cenderung mengatakan bahwa awal suatu eksperimen Indo pop progressive berasal dari buah tangan Idris Sardi yang mengiringi lilis Suryani dalam sebuah album sunda yang yang berjudul ”Antosan” (Bali Record 1964) dimana Idris Sardi benar benar all out dalam menggarap aransemen lagu lagu Lilis itu dengan menggabungkan elemen elemen musik klasik dan pop dengan full orkestra hingga hasilnya sangat mengagumkan…ada beberapa lagu sunda yang dinyanyikan Lilis Suryani yang arransemen-nya membuat saya tidak pernah bosan mendengarkannya … very classical oriented ! namun setelah itu dunia musik berkualitas nasionalpun redup kembali dengan bermunculannya penyanyi penyanyi pop keluaran Irama Record milik Mas Yos boss-nya El Shinta dulu seperti ; Djon Karjono , Gusti Imanuddin, Liliana, Rita & Nita dll.

Waktupun berjalan hingga pada awal tahun tujuhpuluhan bermunculanlah group band-group band bak jamur dimusim hujan tapi dari sekian banyak group band yang muncul dan melegenda hanya terdapat beberapa saja seperti : Rhapsodia, The Rollies,The Peels, Giant Step, Harry Rusli, Rasela, The Rhythm Kings ,AKA, SAS, Godbless, Superkid , Shark Move dan Favourite’s Group dan pada dua band inilah muncul lagu lagu yang aransemennya sangat berkualitas dan pantas di sebut sebagai Indo Pop Progressive kita lihat saja Favourite’s Group didalam lagu-lagu “Mawar Berduri”dan “Teratai Putih” elemen elemen klasiknya sangat kental sekali tetapi A Riyanto sebagai pengarang lagu dan aranjer sangat menguasai sekali didalam meramu keduannya hingga lagu yang sesungguhnya “berat” menjadi enak didengar begitu juga bila kita menyimak lagu “Sakit Dikenang Dibuang Sayang” yang dilantunkan oleh Arie vokalis andalan Favourite’s Group (hingga Vol 3) lagu dan arransemen-nya sangat pas dan saya tidak berlebihan kalau penulis mengatakan bahwa lagu ini sangat berbau klasik sekali aransemen-nya( sudah berkali-kali saya mau meminjam PH-nya pada rekans KPMI untuk saya convert ke CD tapi tidak terlaksana terus). Sedangkan Shark Move begitu berhasil membawakan lagu “Bingung” dan “Madat” (sedangkan prog rock-nya sudah banyak dibahas oleh Mas Toro)

Pada tahun 1974 Maulani (entah dimana beliau sekarang) menyanyikan sebuah karya A Riyanto dengan iringan band 4 Nada yang untuk penggarapan lagu ini 4 Nada full orkestra judulnya “Biarkan Bunga Berkembang” (yang kemudian dinyanyikan lagi oleh A Riyanto tapi sudah kehilangan nuansa spiritual touch nya) yang mana bagi saya lagu ini luar biasa sekali baik lirik maupun arransemennya oleh karenanya hingga kini album Maulani yang pertama ini masih tetap menjadi target hunting saya.

Namun lagi lagi pada kurun waktu setelah pertengahan tahun tujupuluhan dunia musik pop berkualitas redup kembali karena lagu lagu pop era model Eddie Silitonga, Kembar Group, Madesya Group, UsBross dll yang lagu lagunya mendayu dayu bermunculan sedangkan musik panggung dan rock sudah nyaris punah tergilas oleh musik New Wave dan Disco dan pada masa masa kritis seperti itu muncullah Barong Band yang merekrut anak anak Pegangsaan seperti Debby Nasution dan Gaury maka jadilah dua album Barong Band yang melawan arus saat itu; namun mereka tidak bisa dibilang sukses walaupun ada beberapa lagu yang sempat dikenal seperti “Halleluya” dan “Superstar Tenggo” yang menyindir bahwa di Indonesia ini begitu mudahnya masyarakat atau jurnalis memberi predikat superstar... hingga pelawak Ratmi B 29-pun dijuluki superstar. Tidak lama kemudian Harry Rusli dengan proyek ajaibnya yang menggabungkan musik tradisionil Sunda dengan rock maka jadilah album “Titik Api” yang banyak orang mengatakan sebagai sebuah mahakarya original yang luar biasa dimana Harry mentradisionilkan rock dengan suksesnya. Bandung yang pada tahun tujuhpuluhan disebut sebut sebagai kota sarang-nya musisi sangat produktif salah satunya adalah Giant Step yang di motori Benny Soebardja melemparkan album “Kukuh Nan Teguh” yang menurut pak Riza Sihbudi permainan Triawan pada keyboard sebagai luar biasa pada masa itu, inilah album murni GS yang seluruhnya berbahasa Indonesia karena sebelumnya band ini baik di panggung maupun pada rekaman selalu membawakan lagu lagu Inggris hasil ciptaan mereka.

Seiring dengan suksesnya Titik Api anak anak Jakartapun tidak mau ketinggalan , di pehujung tahun 1975 Guruh Soekarnoputra dan anak anak Gipsy serta Abadi Susman dan beberapa musisi Bali biboyong ke studio Tri Angkasa untuk membuat suatu proyek raksasa memadukan gamelan Bali dengan musik rock ,Guruh mengajak Kompiang Raka ( yang kemudian menjadi Wakil Direktur Gedung Kesenian Jakarta), untuk memuluskan eksperimennya.
Berbeda dengan harry Rusli yang mentradisionilkan musik rock ,Guruh sebaliknya dia merock-kan musik tradisionil seperti Ebehard Schoener musisi dari Jerman sebelumnya dengan proyek Bali Agung. Album Guruh Gipsy ini memang sangat megah terutama pada lagu Indonesia Maharddhika walaupun masih terasa bau Genesis, Deep Purple dan Triumvirat didalamnya.


Pada tahun 1977 anak anak Godbless dan Young Gipsy bergabung membuat suatu gebrakan yang membuka cakrawala baru dunia permusikan Indonesia , mereka adalah Yockie Suryoprayogo,Keenan Nasution, Donny Fattah dan Odink Nasution membuat musik baru yang kemudian kita kenal sebagai Pop Progressive didalam album LCLR Prambors Rasisonia dimana mereka membuat suatu revolusi baru dalam dunia permusikan di Indonesia yaitu musik berkualitas gabungan antara pop, klasik dan rock dimana untuk pertama kalinya Yockie menebar suara suara orkestra dari melotron yang masih asing buat pendengar musk pop yang saat itu hanya dikonsumsi oleh anak anak muda kalangan Kebayoran dan Menteng saja yang kemudian merambah ke Rawamangun dan Tebet serta berkelanjutan menjadi suatu penomena di kalangan remaja Indonesia. Lagu Lilin Lilin Kecil merupakan suatu terobosan baru didalam kasanah musik pop Indonesia dimana lagu, penyanyi arransemen dan musisi pengiringnya sangat cocok saling menopang satu sama lain hingga album LCLR itu meledak luar biasa ! , Begitu juga dengan album Chrisye ‘Badai Pasti Berlalu’ samalah fenomenalnya seperti ketika Genesis mengeluarkan album “Foxtrot “ mendapat tanggapan dan pujian yang sangat luar biasa sekali dan itu melambungkan nama Chrisye dan Yockie Suryoprayogo sebagai penanyi dan aranjer yang patut diperhitungkan (namun ironisnya para musisi yang mendukung dan mensukseskan album ini nyaris tidak dikenal oleh masyarakat seperti para musisi yang mengiringi LCLR I&II ! ).

Dan pada tahun 1978 tidak disangka sangka anak-anak SMA Perguruan Cikini yang tergabung dalam kelompok Rara Ragadi melemparkan suatu album yang berjudul “Rara Ragadi” , walaupun mereka masih muda-muda akan tetapi talenta bermusiknya luar biasa!. Banyak lagu lagu didalam album itu yang sangat progressive apalagi pada lagu Rara Ragadi yang menceritakan dendam kesumat seorang jagoan wanita yang patah hati karena ditinggal kekasihnya, lagu ini luar biasa sekali dari segi arransemen musiknya. Iwan Arsyad almarhum sangat cekatan sekali didalam menyanyikan lagu ini sedangkan Riza Arsyad yang bermain pada keyboard sangat mengagumkan sekali permainannya walaupun saat itu usianya belum mencapai tujuhbelas tahun begitu juga gebrakan drum Cendy Luntungan yang mantap dan rapi sekali disamping kehebatan Raidy Noor didalam memainkan gitarnya. Sayang group yang sangat berbakat ini bubar manakala Iwan Arsyad sang vokalis wafat. Kini Riza tidak pernah aktif dimusik progressive lagi dia mengkhususkan diri pada musik jazz Raidy Noor masih tetap istiqomah dengan prog rock-nya di Cockpit sejak awal delapan puluhan menggantikan Harry Minggus sedangkan Cendy Luntungan lebih banyak sebagai travelling drummer dari satu band ke band lainnya.

Namun tidak lama kemudian dunia permusikan dikejutkan kembali dengan kemunculan Keenan Nasution yang melempar album perdananya ” Dibatas Angan Angan” suatu proyek album solo yang megah dengan seabreg musisi berkualitas yang terlibat didalamnya. ”Dibatas Angan Angan” ini memang sangat megah terutama pada lagu Dibatas Angan Angan, Negeriku Cintaku, Buku Harian dan Cakrawala Senja sedangngkan lagu Negeriku Cintaku seperti telah menjadi lagu kebangsaan-nya Keenan disetiap pagelaran musiknya walapun ada ”Close To The Edge ”nya Yes menyelinap disana, tapi walaupun demikian Keenan masih tetap bisa bertahan dalam warna musik Indo Prog hingga album ”Tak Semudah Kata Kata”

Setelah Dibatas Angan Angan ini ,Abhamma band-nya anak-anak IKJ yang sebagai band pendamping konser Dibatas Angan Angan-nya Keenan di TIM tahun 1978 melemparkan album ”Alam Raya” dengan lagu lagu yang liriknya ditulis oleh Tubagus benny seperti ;Malam, Alam Raya, Asmara dll yang semuanya sangat apik sekali . Abhama meramu musik rock dengan lagu lagu klasik karya Debussy , Johan Sebastian Bach dll dengan apik dan cermat sekali, hingga album ini disebut sebut oleh pengamat musik barat sebagai the perfect Italian progressive style album dengan vokalis-nya yang berbakat Iwan Madjid, yang banyak dikonontasikan sebagai Jon Anderson-nya Indonesia apalagi ketika dia menyanyikan lagunya Jon Anderson ”Christie” di TVRI pada pertengahan tahun delapanpuluhan.

Disusul pada awal tahun 1978 dan 1980-an oleh Harry Sabar yang setelah sukses dengan lagu ciptaannya ”Sesaat” melempar album ”Lazuardy” sambil menggandeng anak anak Pegangsaan seperti Odink, Debby dan Keenan Nasution serta pianis classic Marusya Nainggolan. Album ini sangat classic oriented yang dibaurkan dengan Geneis style terutama permainan gitar Odink dan keyboardnya Debby.

Yockie Suryoprayogo yang berkolaborasi dengan Idris Sardi mengeluarkan album ”Musik Saya Adalah Saya” yang sebenarnya sangat bagus sekali akan tetapi karena jamannya sudah berubah maka album ini secara komersial tidak menghasilkan keuntungan lain dengan Fariz RM yang bukan saja menangguk keuntungan finansial tetapi juga popularitas setelah dia merilis album berbau disco ”Sakura” dan ”Selangkah Keseberang” .

Nampaknya Yockie sebagai pamungkas atau penutup era keemasan-nya Indo Progressive di tanah air karena dibelahan dunia sana trend musik-pun telah berubah, wabah ” newwave” sudah tidak dapat dibendung lagi seperti uraian kekecewan Jurgent Fritz keyboardist Triumvirat tentang tidak kondusifnya lagi dunia musik saat itu terhadap musik progressive yang tergilas oleh musik musik ” Punk” dan di Indonesia-pun demikian pula era ”Semangka Berdaun Sirih”, ”Gelas Gelas Kaca” atau ”Sepatu Kulit Rusa”dll telah mewabah dunia permusikan Indonesia yang sayangnya Keenan-pun ikut juga terbawa arus disana dan membuat penggemarnya terhenyak ..bengong. dengan handmoog Keenan menyanyikan satu lagu karangan Melky Guslow ”Lain Dulu Lain Sekarang” disebuah acara Aneka Ria Safari dan lagunya tidak jauh dari model...”Semangka Berdaun Sirih”.... memang pada era 1980-an itu tidak ada satupun album Indo Progressive yang terekam didalam catatan sejarah musik nasional kecuali Godbless merilis ”Cermin” yang dahsyat itu walaupun Abadi Susman hilaf menyelipkan Tarkus-nya ELP kedalam lagu ”Anak Adam” .

Ada juga tampil (reinkarnasi-nya dari Abhamma) WOW yang dimotori oleh Iwan Madjid memeriahkan blantika musik Indo Pop Progressive diawal tahun delapanpul, mereka berhasil melempar tiga buah album sebelum bubar, ditambah sound track film Lupus.

Pada tahun 1988 Iwan Madjid melemparkan album solonya yang berbau prog juga dengan mendaur ulang salah satu lagunya di Abhamma yaitu ”Asmara” dibantu oleh Fariz RM dan Eet Syahrani.Iwan sebenarnya sangat berbakat tetapi dia tidak sepenuh hati menerjunkan dirinya kedunia musik hingga namanya-pun pada akhirnya hilang didalam blantika musik papan atas.

Hingga di awal tahun 1990-an anak-anak Pegangsaan kembali menggebrak dunia permusikan tanah air dengan mengeluarkan 3 album yang berwarna musik Progressive seperti pada lagu Manusia kera dan Palestina II yang mana musiknya benar-benar bernuasa Genesis . Hingga pada menjelang akhir 1990’an Godbless sebagai senior band muncul kembali dengan merilis album ”Semut Hitam” dengan warna musik progrssive yang ngerock sekali dan dahsyat seperti pendapat pak Riza Sihbudi terutama kedahsyatan permainan Yockie, Ian dan Teddy dihampir semua lagu lagu terutama lagu ”Trauma”

Di era reformasi ini nampaknya angin segar mulai berhembus kembali di dunia Indo Pop progressive... seiring bangkitnya kembali musik progressive di seluruh dunia.

Pada tahun 2002 group Dewa di album ”Dewa Bintang Lima” dalam lagu ”Risalah Hati”, lagu yang menduduki tangga teratas selama lebih dari tiga bulan itu sangat ngeprog sekali dan berbau Genesis terutama Andra gitarisnya jelas sekali permainannya kearah progressive oriented ala Steve Hackett. Pada era tahun 2000-an ini juga dalam lagu “Janji kita” Kelompok anak anak muda berbakat; Keris Patih, permainan gitarnya juga kental dengan warna Steve Hackett dan dimainkannya dengan apik sekali.

Dengan reuninya kembali group prog pogressive rock papan atas seperti ; Asia, Genesis, Yes dan Triumvirat dimana band-band inilah yang telah memberikan ilham pada para pemusik Indo pop progressive maupun progressive rock Indonesia di era 1970-an dulu, akan dapat kembali menggairahkan musik Indo Pop Progressive di Nusantara, semoga.








ReviewReviewReviewReviewReviewMenuai Pujian Setelah 35 TahunMar 28, '08 2:31 AM
for everyone
Category:Music
Genre: Rock
Artist:SHARK MOVE
Shark Move, Menuai Pujian Setelah 35 Tahun.
Oleh Niantoro Sutrisno/KPMI
Ketertarikan label luar, Shadoks Music (Jerman) -- yang mengkhususkan diri menerbitkan kembali album rekaman langka era tahun 1960-1970an dari berbagai grup atau musisi penjuru dunia -- terhadap album semata wayang Shark Move, tentunya bukan tanpa alasan. Sesudah mereka menerima 2 buah sample lagu Shark Move, yaitu Evil War dan My Life, akhirnya piringan hitam dan CD itu mereka rilis ulang karena dianggap sound musik Shark Move luar biasa dan unik. Tidak adanya master album tak menghalangi perilisan ulang itu, karena source akhirnya diambil dari piringan hitam. Setelah terjadi deal dan jelas masalah hak cipta, album Ghede Chokra's dirilis dalam bentuk edisi khusus format piringan hitam dalam kemasan mewah pada Februari 2007 serta format CD pada November 2007. Judul album Ghede Chokra's atau padanan dalam bahasa Inggris Great Session diambil dari bahasa India yang disematkan oleh Bhagu Ramchand. Judul itu diambil sebagai gambaran suasana yang dirasakan para personil dalam group Shark Move.

Pasca dirilis ulang album Shark Move, berbagai resensi baik di dalam maupun luar negeri umumnya memuji kedahsyatan musik Shark Move yang mengemas musik rock dengan berbagai turunannya, baik progresif maupun unsur tradisional. Bahkan salah satu majalah musik yang cukup bergengsi, Rolling Stone Indonesia tak urung menempatkan album Ghede Chokra's di antara 150 album Terbaik Indonesia dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.

Jika kita membicarakan Shark Move, bisa jadi grup itu adalah grup yang memulai pola pembuatan album dengan cara-cara indie (independen) di kancah musik Indonesia. Dalam sebuah kesempatan, Benny Soebardja sang frontman mengatakan: "Shark Move dimodali oleh Bhagu Ramchand". Bhagu Ramchand yang wafat pada 2001 adalah juragan tekstil dari yang punya usaha di Pasar Baru Bandung dan sudah menjadi warga negara . Bhagu Ramchand juga cukup berperan dalam memberikan ide serta turut memberikan suara dalam lagu Evil War. Modal menjadi kata kunci independensi Shark Move dalam membuat sebuah album, dengan demikian tidak ada tekanan dalam menentukan arah dan corak musik karena mereka memproduserinya sendiri dengan label yang dibuat pula oleh mereka bernama Shark Move Records. Demikian halnya dengan distribusi, merekalah yang melakukannya.

Shark Move, dibentuk awal tahun 1973 oleh Benny Soebardja setelah keluar dari The Peels, sebuah grup yang pada awalnya membawakan lagu-lagu pop, namun kemudian menjelajahi pula warna musik rock progresif yang cenderung psychedelic. Konsep rock progresif itulah yang kemudian dimatangkan di grup Shark Move.
Saat Shark Move dibentuk, Benny Soebardja yang mahir berolah vokal dan memainkan gitar masih kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran. Bersama rekannya ex The Peels yaitu Soman Loebis, mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang piawai memetik tuts keyboard, piano dan perkusi, Shark Move pun dibentuk dengan tambahan personil Janto Diablo sebagai pemain bass/flute dan Sammy Zakaria sebagai pemain drum, plus Bhagu Ramchand.
Album perdana sekaligus satu-satunya, diberi judul Ghede Chokra's dimana proses rekamannya dilakukan di Musica Studio . Mengusung musik rock sebagai ciri khas dengan adonan musik progresif pada beberapa lagu membuat album ini tak lekang dimakan zaman. Yang cukup menarik dari album ini adalah lagu My Life yang kuat dengan warna rock progresif memiliki durasi 9.14 menit, rasanya menjadi lagu rock Indonesia terpanjang di era tahun 1970an, satu hal yang bertolak belakang dengan lagu Indonesia kebanyakan di era itu, yang umumnya memiliki durasi 3-5 menit. Hal lain yang cukup unik dari album Ghede Chokra's adalah keberanian mereka membuat cover depan yang penuh dengan perhitungan artistik berupa lukisan karya Samantha Choq bergambar para personil Shark Move menunggang hiu bersayap, posisi mereka siap menyerang monster tanpa kepala. Pembuatan cover seperti itu, cukup bertolak belakang jika dibandingkan dengan kebanyakan cover di zamannya.

Pada perilisan perdana, album Ghede Chokra's dibuat dalam bentuk piringan hitam dan dalam jumlah tidak terlalu banyak, tidak lebih dari 1000 buah. Pasca dirilisnya album, Shark Move sempat melakukan sejumlah konser tidak saja di yang menjadi base tetapi juga merambah ke kota-kota lain, mulai sampai . Di tahun 1976 dibawah label BB Record, Benny Soebardja mengeluarkan album Shark Move berjudul My Life. Sejujurnya di album itu, yang dominan adalah lagu Benny Seobardja dan Lizard, lagu Shark Move walaupun di jadikan head line album hanya dimuat 3 buah yaitu, My Life, Butterfly dan Evil War. Album ini, covernya beda dengan versi piringan hitam karena bergambar Bhagu Ramchand dan Benny Soebardja yang memainkan gitar. Alasan dikeluarkan versi kaset itu karena versi piringan hitam banyak dibajak. Untuk menjadi sebuah album penuh, dimasukan lagu milik Benny Soebardja dan Lizard (yang beranggotakan Triawan Moenaf, Harry Soebardja, Alan dan Hadi Arief) dengan dukungan backing vokal Rini, Kenny, Anna, Lenny, Edna plus GPL UNPAD yang terdiri dari Joki, Oyan, Nelson, Agus dan Atschul.
Kiprah Shark Move di blantika musik tidaklah panjang, tak lebih dari setahun. Ketika karier bermusik masih dibangun, guncangan hebat melanda grup itu karena Soman Loebis diminta bergabung di God Bless oleh Ahmad Albar. Sebenarnya, Benny Soebardja mengharapkan Soman Loebis tetap di Shark Move. " mencari pemain seperti dia", ungkap Benny Soebardja memberikan alasan beberapa waktu lalu. Karena tidak berhasil menemukan pemain keyboard/piano pengganti sekualitas Soman Loebis, akhirnya Shark Move pun bubar di tahun yang sama dengan tahun pendiriannya, tahun 1973. Sungguhpun demikian, dalam rentang karier yang tidak lama, Shark Move telah memberikan warisan berharga bagi dunia musik tanah air, berupa album mahakarya Ghede Chokra's yang sarat dengan pujian.

Saat ini kiprah personil eks-Shark Move yang hanya menyisakan 3 orang yaitu Sammy Zakaria dan Janto Diablo tidak terdengar lagi berkutat di dunia musik. Sementara itu, Benny Soebardja di sela-sela kesibukannya sebagai pengusaha meubeul yang sukses masih menyempatkan berkiprah di dunia musik, baik sesekali masuk studio rekaman untuk membuat demo lagu maupun melakukan konser untuk tujuan amal dan kemanusiaan seperti dijadwalkan pada bulan April 2008 di daerah Banjarnegara, Cilacap, Purwokerto dan Wonosobo. Konser di daerah tersebut mengambil tema kampanye anti narkoba dengan dukungan dari Wakil Bupati Purwokerto, Soehardjo yang juga fans Benny Soebardja. Khusus untuk pertunjukkan amal dan kemanusiaan, Benny Soebardja telah mengikrarkan diri untuk tidak dibayar.


Personil Shark Move
Benny Soebardja - vokal/gitar
Soman Loebis - vokal/keyboard/piano/perkusi
Janto Diablo - vokal/bass/flute
Sammy Zakaria - drum, vokal lagu Insan
Bhagu Ramchand - executive produser (pemodal), vokal lagu Evil War
Track list Album Shark Move - Ghede Chokra's
*Shark Move Records, 1973
*Shadoks Music, Februari 2007 (versi piringan hitam)
*Shadoks Music, November 2007 (versi CD)
1.My Life (Benny Soebardja)
2.Butterfly (Benny Soebardja)
3.Harga (Janto Diablo)
4.Bingung (Soman Loebis)
5.Evil War (Benny Soebardja)
6.Insan (Benny Soebardja)
7.Madat (Janto Diablo)




ReviewReviewReviewReviewBHASKARAFeb 7, '08 8:57 PM
for everyone
Category:Music
Genre: Jazz
Artist:The Real Exciting Band
BHASKARA
The Real Exciting Band!

oleh Suria Dharma dan Roullandi/KPMI


Bhaskara dibentuk dengan nama Bhaskara 85. Kolektif ini tampil perdana di Taman Ismail Marzuki, 2-3 Juli 1985 dengan formasi gitaris Kiboud Maulana, saksofonis Udin Zach, keyboardis Bambang Nugroho dan Didi Hadju, drummer Karim Suweileh, bassis Perry Pattiselano, Luluk Purwanto (violin, vokal), Dullah Suweileh (perkusi), dan vokalis Nunung Wardiman yang saat itu sedang sekolah di Perancis. Mereka membawakan 12 lagu, antara lain “Live is Too Short To Worry”, “Japanesse Child”, “Putri”, “Samba in Bali” dan aransemen ulang “Es Lilin”. Kehadiran Bhaskara di tengah tahun 85 itu tidak lepas dari peran Ireng Maulana yang bertindak sebagai produser pertunjukan dan supervisor grup ini.

Langkah berikut Bhaskara 85 adalah partisipasi mereka di North Sea Jazz Festival 1985. Di bawah tanggung jawab Peter F.Gontha dari PT.Bhaskara Music Production, Bhaskara 85 tercatat sebagai grup Indonesia pertama yang tampil arena bergensi itu. Penampilan Bhaskara '85 dianggap cukup sukses dan ketua panitia NSJF, Paul Acket meminta band tersebut kembali mengikuti festival itu di tahun berikutnya.

jadilah Bhaskara tampil di NSJF 1986. Untuk kali kedua, formasi Bhaskara 86 mengalami sedikit perubahan. Posisi Kiboud, Perry dan Nunung digantikan oleh Joko WH, Mates, dan Vonny Sumlang. Bhaskara 86 mendapat panggung yang lebih luas dari pada tahun sebelumnya. Luluk kembali menjadi primadona pementasan mereka. Komposisi yang mereka bawakan disebutkan telah mempunyai warna kepribadian yang khas dan kelihatan unsur Indonesia-nya.

Sepulang NSJF, Bhaskara masuk ke dapur rekaman disusul dengan show di berbagai kota dalam negeri. Di luar dugaan, album yang direkam medio mei-juni 1986 itu sukses dan terjual hingga 75,000 kaset. Sebuah angka yang sulit dicapai oleh rekaman jazz musisi Indonesia di era itu. Lagu-lagu di album tersebut sangat populer, khususnya “Betawi”, “Putri”, dan “Life Is Too Short To Worry”. Lagu “Betawi” kemudian dipakai sebagai lagu penutup acara siaran berita di sebuah stasiun TV swasta. Gesekan biola Luluk Purwanto menghidupkan nyawa lagu tersebut. Banyak orang yang hafal akan melodi lagu tersebut, walaupun tidak mengenal judul lagu apalagi musisi yang memainkannya. Lagu “Putri” ditulis oleh Yanti R., yang merupakan kependekan dari Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut). Lagu ini direkam kembali pada album Bhaskara 91 dalam versi vokal. Lagu “Life Is Too Short To Worry” dengan vokal Vonny Sumlang dirilis kembali dalam album kompilasi Best of Jazzy Vocals.

Sukses album pertama Bhaskara 86 di ranah industri musik Indonesia dilanjutkan dengan rilis volume keduanya di tahun 1987. Album yang berjudul Lady Bird ini kembali diproduseri oleh Bhaskara Music Production (Bhamution), namun distribusinya menggunakan label rekaman lain yaitu Bulletin Record (tidak lagi oleh Aquarius Ind.). Hasil penjualannya biasa saja dan tidak sesukses album pertama. Lagu hit “Bayang-bayang” dari album ini menjadi salah satu lagu dalam kompilasi Indonesian Jazzy Vocals Too. Uniknya, justru lagu “Bayang Bayang” adalah lagu yang tidak disertakan di rilis ulang album tersebut di tahun 1988. Rilis ulang album Lady Bird meniadakan “Bayang Bayang” dan “Kaki Lima”, dan menyertakan satu track baru karya Mates, “Ease My Pain”. Di seri kedua ini juga Peter F.Gontha menyumbangkan sebuah karyanya, “Sunday 14th”, untuk dimainkan oleh Bhaskara.

Namun sayang kiprah The Real Exciting Band tersendat, bahkan akhirnya berhenti. Hal ini disebabkan sebagian pemainnya di”rekrut” oleh Peter F.Gontha ke dalam grup baru Wong Emas (sebelumnya lebih dikenal berkiprah di café seputaran Jakarta dengan nama Gold Guys) dan kemudian Luluk berumah tangga berangkat ke Eropa mengikuti suaminya, Rene van Helsdingen.

Nama Bhaskara sempat kembali saat mereka mengeluarkan album ketiga dengan menggunakan nama Bhaskara 91. Bhaskara berkiprah atas dukungan manajemen Citra Dharma Bali Satya, melalui label Lolypop Record. Di sini tampak sekali Bhaskara mencoba berkompromi dengan pasar. Walaupun memiliki Vonny Sumlang, Bhaskara '91 mengundang beberapa vokalis tamu di album tersebut. Bintang tamu mereka adalah Harvey Malaiholo, Ermy Kullit dan Andi Meriem Matalatta. Yanti R. menyumbang empat lagu ciptaannya di sini yang masing-masing dinyanyikan oleh empat vokalis berbeda. Lagu “Putri” dibuat versi vokalnya dan dinyanyikan oleh Harvey. (versi ini juga terdapat dalam album "The Reflections of Harvey Malaiholo Greatest Hits 1987-2007).

Setelah album Putri, Bhaskara kembali mati suri. Wafatnya Udin Zach semakin mempertegas kondisi non-aktif kelompok ini karena ternyata porsi beliau di band itu sulit dicari penggantinya. Leader Bhaskara ini merupakan salah satu saksofonis terbaik yang dimiliki Indonesia di samping Embong Rahardjo dan Maryono. Di tahun 70'an Udin Zach pernah menjadi anggota grup Ariesta Birawa dan bergabung juga dalam Madesya pimpinan May Sumarna.

Anggota Bhaskara lainnya kemudian sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bambang Nugroho sempat menjadi anggota The Square bersama Donny Suhendra (guitar) dan Yuke Sumeru (bass) dimana mereka sering tampil rutin di TVRI. Saat ini Bambang Nugroho menetap di Bandung dan mendirikan sekolah musik serta mengajar piano secara privat. Salah satu muridnya adalah Zefanya Putra, pianis cilik yang sudah bermain di berbagai festival. Didi Hadju lebih memilih aktif di belakang layar. Antara lain ia ikut membidani awal suksesnya Karimata.

Luluk Purwanto, violis kelahiran Solo, 25 Juni 1959 tapi besar di Yogyakarta, kini telah berkiprah di panggung jazz dunia. Sudah 19 tahun ia tinggal di Amsterdam, Belanda. Saat pulang kampung pada 1997, violis kelahiran Solo 25 Juni 1959 itu mengadakan konser keliling bersama The Helsdingen Trio. Luluk konser keliling Jawa-Bali selama hampir dua bulan (25 Juli-15 September) dengan sebuah bus panggung (The Stage bus). Sebelumnya, ia telah empat tahun ngamen dengan di Eropa. Selama empat tahun itu Luluk & The Helsdingen Trio, yang terdiri dari Rene van Helsdingen (piano), Macello Pellitteri (drum), dan Esseit Okon Esseit (bass), menggelar lebih dari 350 konser dan tampil dalam beberapa festival jazz dan blues hingga Festival Bergen di Norwegia. Termasuk pula, menyusuri 15 ribu kilometer jalanan Australia selama akhir 1996 dengan menggelar 25 konser. Luluk Purwanto dan Helsdingen Trio bentukan suaminya, telah mengeluarkan banyak album di Eropa. Di tahun 2006, Luluk kembali mengadakan tur keliling Indonesia dengan menggunakan Stage Bus yang diakhiri tampil dalam Jak Jazz 2006. Akhir tahun ini mereka merilis sebuah album yang berjudul Aisya.

Suweileh Bersaudara dan Mates sampai saat ini tetap aktif di panggung dunia jazz Indonesia. Karim Suweileh merupakan musisi veteran yang sudah berkecimpung di dunia hiburan musik sejak tahun 70'an. Ikut bermain bersama almarhum Jack Lesmana dan Nick Mamahit untuk acara jazz di TVRI "Nada dan Improvisasi". Karim juga mendukung rekaman Indra & Jack Lesmana Quartet "Children Of Fantasy". Ia turut membentuk grup musik Funk Section bersama almarhum Chris Kayhatu, Yance Manusama, Jopie Item dan almarhum Embong Rahardjo. Sebagai session drummer di dunia rekaman, Karim banyak terlibat di banyak album. Kiprahnya juga tercatat sebagai produser di beberapa album rekaman bekerja sama dengan Aquarius Musikindo. Beberapa album yang cukup sukses yang didukung hasil olahan rhythm dari Karim antara lain: Utha Likumahua (Tersiksa Lagi), Jopie Latul (Amboina Jazz), Jackie (sebagai produser di album Nada dan Improvisasi), Nunung Wardiman, Ermy Kullit, Margie Segers, sampai dengan Rien Jamain. Di tahun 2000 bersama musisi muda berkolaborasi membentuk The Forte Band yang sering tampil secara rutin di Jakarta Hilton International. Untuk forum international, Karim sempat bermain dari tahun 1979 sampai 1982 di Sydney, Australia bersama Jack Lesmana dan Bill Saragih. Tahun 1984 sempat tour keliling Eropa bersama Funk Section, yang dilanjutkan pada tahun-tahun selanjutnya berpartisipasi di North Sea Jazz Festival bersama Bhaskara.

Dullah Suweileh merupakan kakak dari Karim Suweileh dan adik dari Awat Suweileh yang dulunya merupakan drummer dan pemain conga yang sering bermain dengan musisi jazz Indonesia di Surabaya tahun 1960-an. Tahun 1972 Dullah memberanikan diri masuk Jakarta, setelah ia memutuskan akan tetap main musik sebagai pilihan hidupnya. Ia begitu yakin bisa hidup dari bermusik sampai nekad meninggalkan bangku kuliahnya di tingkat III Fakultas Ekonomi Airlangga tahun 1964. Di Jakarta, Dullah main bersama musisi jazz yang sebelumnya main bersama Awat. Dullah memang menggantikan posisi Awat yang tidak betah tinggal di Jakarta.

Bassis Ananda Sutrisno Mates adalah salah satu anak asuh alm. Jack Lesmana. Awal kiprah pria kelahiran Hilversum, Belanda 15 maret 1953 ini dapat ditemui di rekaman grup Matahari produksi nc clml dan Aristocrat Record. Masih bersama keybordis Agus, sahabatnya di Matahari, Mates juga terlibat di album Harry Sabar, Agus & Mates (Jal Record) dan album kelompok vokal Hutauruk Sisters (album Dirimu Satu, produksi Asia Record). Mates sedikitnya tiga kali pergi dan main di NSJF; 1986 bersama Bhaskara, 1987 dengan Wong Emas, 1991 kembali dengan Bhaskara. Selain bergabung dengan band-band tadi, Mates juga pernah memperkuat Embong Rahardjo Band, Benny Mustafa Combo, Java Jazz formasi pertama dan grup Adegan bersama Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra dan Harry Mukti. Mates juga sempat bergabung dalam Reborn bentukan Indra Lesmana. Sekarang ia sering bermain bersama The Big City Blues dan Tamam Hoesein.

Vonny Sumlang yang pernah sukses dengan solo albumnya "Ratu Sejagad", yang populer kembali dinyanyikan oleh Ratu kini lebih banyak tampil pada kegiatan pelayanan dan sempat mengeluarkan album rohani beberapa tahun yang silam. Hal yang sama juga dilakukan oleh Joko WH. Gitaris ini telah jauh melangkah dalam kegiatan religinya. Kiprah non-pelayanan terakhir Ivone Agnes Sumlang, nama lengkap Vonny Sumlang adalah menjadi vokalis tamu di album "VIVO", sebuah duo bentukan Ivan Nestorman (vokalis NERA) dan Andi Bayou. Vokalis kelahiran Kupang, Nusa Tenggara 19 April 1961 ini sempat tampil kembali di Jak Jazz 2006 dan Jazz Goes To Campus 2007 lalu bersama Chaseiro.

Jelas adalah rasa exciting yang timbul setelah kita menelaah kilas balik perjalanan kelompok Bhaskara, baik sebagai grup maupun karir masing-masing personilnya. Kehadiran mereka berhasil meramaikan pentas musik Indonesia, khususnya jazz di negeri ini dan menciptakan magma kerinduan dihati penggemarnya. Inilah yang kabarnya akan diantisipasi oleh penyelenggara sebuah festival jazz internasional di Jakarta di bulan Maret 2008 yang akan datang. Bagaimana bentuknya? Kita tunggu saja apa yang akan mereka buat untuk menghidupkan kembali The Real Exciting Band, Bhaskara.






ReviewReviewReviewReviewReviewPerjalanan Musik Noor BersaudaraJan 29, '08 8:19 PM
for everyone
Category:Music
Genre: Pop
Artist:Noor Bersaudara
NOOR BERSAUDARA


Oleh: Jose Choa Linge/ KPMI

“Langgengnya sebuah grup band keluarga, tidaklah cukup hanya bermodal kekompakan, pengertian dan kejujuran saja. Salah satu kunci suksesnya membina grup band keluarga, adalah menekan ego masing-masing dan saling menghargai satu sama lainnya. Noor Bersaudara, adalah contoh salah satunya yang masih eksis dalam Empat Dekade ini!”.

Awal 1962, ‘Adi Noor’ sang paman memprakarsai keberadaan Noor Bersaudara di industri Musik Indonesia. Sebelum mentasbihkan menjadi Noor bersaudara, kelompok ini adalah sebuah ‘Band Bocah’ keluarga yang mempunyai ikatan saudara beranggotakan antara lain, Firzy (11 thn), Harry (9 thn), Iwan (10 thn), Nana(8 thn), Ida (9 thn), Yanti (8 thn) dan Dewi (6 thn). Suatu ketika, sang paman mengajak band bocah ini ikut festival band antar se Kebayoran. Dengan mendompleng nama Irama Remaja band milik sang paman yang salah satu personilnya Sophan Sophian untuk berlaga, band bocah ini berhasil keluar sebagai pemenang ke III dan mampu menyisihkan peserta band dewasa lainnya. Sejak saat itu, kakek ‘Pangeran’ Muhammad Noor merasa senang cucu-cucunya yang masih sangat belia memenangkan satu kejuaraan dalam ajang lomba tersebut, sehingga sang kakek tak segan-segan merogoh koceknya menambah peralatan musik band bocah ini. Seiring berjalannya waktu, band bocah ini sudah dikenal masyarakat lewat pemberitaan surat kabar dan majalah maupun seringnya mengisi secara reguler di Televisi. Sang kakek sering memboyong cucu-cucunya ketempat-tempat keramaian pusat Perbelanjaan Pasar Baru dan Taman Rekreasi Cibulan-Cisarua dan Sampoer-Tanjung Priok hanya untuk mencari perhatian masyarakat “Kakek, baru puas dan senang apabila masyarakat menyambut dengan antusias keberadaan kami.. Apalagi anak-anak seumuran, sering mengikuti langkah kecil kami, mengekor kemanapun kami pergi…hahahaha” ujar Harry, mengenang almarhum sang kakek.


Pada tahun yang sama (1962), bersamaan Indonesia menjadi Tuan Rumah Pesta Olah Raga Bangsa-bangsa se Asia yang Pertama (ASIAN GAMES) berlangsung di Jakarta, band bocah ini diminta mengisi acara workshop di TVRI secara live. Selain penyanyi Anna Mathovani dan Fenty Effendi, band bocah inipun rutin mengisi acara musik setiap satu bulan sekali memanjakan pemirsa yang kala itu hanya TVRI sebagai tontonan hiburan satu-satunya di rumah. Tidak hanya di Jakarta saja, band bocah inipun merambah pertunjukan di kota Bandung dan melibatkan penyanyi lokal setempat Fenty Effendi sebagai vokal tamu.

Memasuki 1975, dunia rekaman sudah terbuka lebar. Dengan formasi lebih kecil yang beranggotakan lima orang, terdiri dari Firzy (Gitar), Harry (Bass & Drum), Nana (Vokal), Yanti (Vokal) dan Ida (Vokal) mulai mengusung nama NOOR BERSAUDARA. Kelompok ini merekam album perdananya untuk label Pramaqua seperti Harapan nan Gersang, Cinta yang Hilang, Menanti Kasih, Love Is, Kuingat Selalu dll. Menariknya lagi, hampir semua lagu dan lirik berbahasa Indonesia maupun Inggris di komposisi side A dikarang sendiri oleh mereka sehingga Noor Bersaudara memiliki orisinalitas. Selain lagu I’ve Got The Feeling dari The Beatles, album ini juga diperkuat oleh sejumlah musisi seperti Keenan Nasution pada drum, Rully Djohan (keyboard), Odink Nasution (gitar) dan Alex Kumara sebagai Sound Engineering serta dibantu Bornok Hutauruk sebagai backing vocal dan melibatkan juga Vokal Group Universitas Indonesia. Album ini cukup menyita perhatian penikmat musik di masa itu.


Menjelang 1977, Keluarga Noor sering kongkow di Gelanggang Remaja Bulungan tempat mangkalnya para musisi hebat negeri ini, salah satunya yang menarik perhatian keluarga Noor adalah musisi muda Hadiyanto. Merekapun langsung mengajaknya bergabung ke formasi Noor Bersaudara. Mereka membuat konsep grup vokal sehingga dipercaya kembali mengisi acara musik di TVRI. Sejak pemunculannya di Televisi, salah seorang musisi Jazz handal Jack Lesmana terpana menyaksikan kebolehan keluarga Noor bermain musik, lalu bersama sang isteri Nien Lesmana dan Broery Pesolima datang ke kediaman keluarga Noor untuk meminangnya menjadi bagian dari acara “Nada & Improvisasi” yang digawanginya. “Sebenarnya sih…..sejak pemunculan kami di televisi, kami sangat berharap ditonton sama om Jack (Jack Lesmana) dan mengajak bermain di acara musik Nada & Improvisasi….ternyata gayung bersambut! ” ungkap Firzy mengingat-ingat!. Sejak “merger” dengan Jack Lesmana, Noor Bersaudara secara reguler mengisi acara televisi dan beberapa konser di luar kota Jakarta seperti Bandung dan Surabaya bersama penyanyi-penyanyi Jazz lainnya seperti Rien Djamain, Broery Pesolima, Margie Segers, Melky Goeslow dll. Sejak bergabung dengan Jack Lesmana, konsep bermusiknya di rubah menjadi kelaki-lakian dan secara otomatis vocal perempuan harus mengikuti, ada beat jazz, klasik, pop & rock. Sangat berbeda dengan konsep bermusiknya di awal masih band bocah, yaitu memainkan lagu-lagu orang dan mengaransemen ulang sehingga masuk pada karekter Noor Bersaudara. “Kenapa?…karena pada saat itu, kami terbatas bawakan lagu anak-anak dan daerah, tapi kami mesti mainkan pake band… kami juga banyak dipengaruhi Koes Bersaudara, The Beatles dan band-band Instrumental seperti The Shadows, TheVentures dan Eka Sapta atau Chicago dan Pointer Sister bahkan Rolling Stone,” pengakuan Firzy dan Harry.

Di tahun yang sama (1977), Noor Bersaudara menyelesaikan album keduanya di label Hidayat Records yang sering merilis album Jazz semisal Bubi Chen, Ati Pramono, Rien Djamain, Margie Segers, Mona Sitompul, & Maryono. Dimana, album proyek ini adalah sebagian rekaman lagu-lagu dari acara Nada & Improvisasi di TVRI yang saat itu sudah menggunakan sistim Taping. Lagu-lagu lawas seperti Sabda Alam dan sebuah lagu yang digubah Noor Bersaudara Harapan Nan Gersang dll. Hanya dua buah lagu yang benar-benar direkam di studio yaitu Surat Undangan & Kesepian, sehingga di kedua lagu tersebut Firzy & Harry sudah tidak terlibat karena sedang sekolah ke Belanda. Di album ini pula atas kesepakatan bersama Jack Lesmana ingin memperkenalkan putranya Indra Lesmana (10 thn) yang memang berbakat di musik, menyumbangkan karangannya berjudul Kabur. Daya tarik dari album ini adalah diperkuat para musisi jazz seperti Karim Suweileh, Benny Likumahua & Perry Pattisellano, sehingga album ini adalah satu sisi menonjol dan mempesona bahkan dipuja penikmat musik jazz. Terbukti, majalah Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2007 memuat sebagai urutan ke 88 dari 150 Album Indonesia Terbaik.

Setelah 1977, sepeninggal Firzy dan Harry menuju Belanda, tidak menyurutkan langkah Noor Bersaudara untuk tetap menancapkan kakinya di kancah musik Indonesia. Nana, Yanti dan Ida tetap membawa energi baru melaju dengan satu tujuan menggunakan bakat seninya untuk membawa kenyamanan dan memanjakan penikmat musik indonesia dengan suaranya. Talenta trio dari keluarga Noor ini, mempunyai style yang menjadi ciri khasnya dan sulit disamai dengan penyanyi trio yang kala itu sudah meramaikan peta musik indonesia seperti Nidya Sister, Sitompul Sister, Hutauruk Sister, Nainggolan Sister maupun Lex Trio, sehingga oleh Yukawi Record Noor Bersaudara diajak berkolaborasi dan menghasilkan dua buah album, yang antara lain berisi lagu-lagu Menanti Kasih (cipt. Noor Bersaudara), Jantan, Bunga lagi Cinta Lagi (cipt. Titiek Puspa). Album ini, memiliki daya tarik dan tetap mempesona dan masih enak didengar di masa kini. Cobaan baru datang lagi, masing-masing personil Noor Bersaudara satu persatu membina rumah tangga. Dimulai dari pernikahan Nana, disusul Ida dinikahi Firzy, kemudian Yanti di persunting Chrisye, sehingga untuk beberapa saat Noor Bersaudara vakum, lengkaplah sudah gaung Noor Bersaudara sudah tidak terdegar lagi. Namun hanya sesaat, karena gadis kelahiran Roma (Italia) Rani Trisutji, isteri dari Raidy Noor yang juga seorang pianis & penyanyi solo, bergabung dengan Noor Bersaudara. Dengan hanya personil dua orang Nana dan Rani, Noor Bersaudara kembali dapat ditemui di sejumlah album solo penyanyi Indonesia dari mulai Vina Panduwinata, Chrisye, Armand Maulana, Paquita Wijaya, Camelia Malik, Meggy Z, Sylvia Saartje, Nike Ardilla dan teranyar Album Presiden SBY sebagai backing vokal atau dapat juga dijumpai Noor Bersaudara berkolaborasi dengan Rita Effendy mengisi vokal pada Theme Song Film‘ Catatan Si Emon’ pada tahun 1991.

Album Baru dan Semangat Baru

Akhir 2007 Noor Bersaudara come back lagi meramaikan musik Tanah Air ini dengan formasi berubah seperti Firzy (56 thn), Harry (54 thn), Nana (53 thn) & Rani (47 thn). Bermula, sejak enam bulan yang lalu Ida, isteri dari Firzy yang juga masih sepupu dan salah satu mantan personel Noor Bersaudara menghadap sang Khalik, Firzy banyak berdiam dan mengurung diri di rumah. Oleh teman-teman terutama keluarga dan kerabat berempati mengajak untuk melupakan kenangan indah saat bersama Ida untuk bangkit dari keterpurukan kembali bermusik. Dari mulai acara keluarga, kawinan teman dan acara kumpul-kumpul di café “Masih bisa nih!” aku Firzy, saat saya sambangi proses mixing album Noor Bersaudara yang akan launching awal thn 2008 di studio Living Room di ITC Permata Hijau. Kebetulan Aida Mustafa, Moteh Mokoginta dan Eddy Susilo menggagas Event Musik Tahun 70-an, dimana semua band-band jaman pesta masih muda dulu diminta aktif lagi. Ternyata konser yang berlangsung di Bugs Cafe ini membawa dampak positif bagi para musisi veteran, Event pertama, Marini & The Steps di lanjutkan Event kedua, Noor Bersaudara berdampingan dengan Gipsy berhasil gemilang. Kemudian, Penampilan selanjutnya tanggal 1 Desember 2007 di Eldorado-Bandung ‘Noor Bersaudara sebagai The Beatles’ bertajuk The Journey Concert INA ( Indonesian Association ) Blues, mendapat aplaus penonton dan memperoleh respon di dunia maya. Inilah yang menjadi starting point kembalinya Noor Bersaudara untuk merekam kembali suara mereka dan merekomendasikan lagu-lagunya di album-album terdahulu.

Salah satu keunggulan dari album ini karena melibatkan sang adik, Raidy Noor (47 thn) & friends Addie MS, Doddy Soekasah, Edi Hudioro (Chaseiro), Iwang Noersaid & Uce Hariono. Mereka mengusung lagu Sapa Semesta, Alam dan Pujangga, Kiasan Kata, Salah Paham dan Cinta Yang Hilang yang pernah dibawakan oleh The Rollies. Bahkan di album ini terdapat satu lagu baru khusus di ciptakan Firzy berjudul By-By bernuansa The Beatles, menjadi ciri khas Noor Bersaudara yang terkenal di kalangan teman-teman bermusiknya suka mengobrak-abrik dari ‘lagu biasa’ menjadi ‘sangat luar biasa’ dapat dijumpai di album ini sebagai lagu ‘pamungkasnya’. Kehadiran, Iwan (55 thn) sebagai executive producer maupun Yanti (53 thn) yang sudah lama vakum atau kemunculan suara manis Alm. Ida pada lagu Bis Sekolah ciptaan Tonny Koeswoyo dapat didengar kembali. Boleh dibilang, menurut Raidy Noor sebagai Penata musiknya, “Album ini dapat dikategorikan sebagai album Pop Progresif, seperti album alternatiflah!... Karena aliran musik ini sudah tidak terdengar lagi sekarang, jadi sengaja kami hadirkan kembali dan mengemasnya sebagai album eksklusif.” Yang menarik di catat adalah, kemunculan Noor Bersaudara menyemarakkan katalog musik Indonesia kali ini, bagaikan chemistry sebuah “Reuni Noor Bersaudara” atau paling tepat sebagai “Reuni Keluarga Besar Noor.”

*****



DISKOGRAFI
Koleksi: Jose Choa Linge


§ Album / Single :

1. Harapan Nan Gersang (Pop) Pramaqua – 1975
2. Surat Undangan (Bersama, Indra Lesmana/Jazz) Hidayat – 1977
3. Menanti Kasih (Pop) Yukawi – 1978
3. Jantan (Pop) Yukawi – 1979
4. Bis Sekolah (Single / Pop) Sony Music – 1982
5. Nonstop Disco Reggae (Bersama, Johan Untung) Blackboard – 1992


§ Sebagai Backing Vocal :

1. Album, LCLR Prambors (Lilin-lilin Kecil) Prambors – 1977
2. Album, Prambors & Band (Kemarau II) DS – 1979
3. Album,Titiek Hamzah (Tragedi) Jackson – 1981
4. Album, Raidy Noor (Sapa Semesta) Aquarius - 1985
5. Album, Dodo Zakaria (Mellisa) Aquarius – 1986
6. Album, LCLRPrambors (Salahkah Aku) Aquarius – 90/91
7. Album, Nike Aedilla (Bintang Kehidupan) Blackboard – 4/91
8. Album, Franky & Jane (Langit Hitam) ART - 04/91
9. Album, Jayanti Mandasari (Kusadari) Ariesta – 1991
10. Album, Ruth Sahanaya (Bawa Daku pergi) Aquarius – 1992
11. Album, Titi Dj (Take Me To Heaven) AR – 04/92
12. Album,Farid H&Lucky R (Romantika di Amor) Metrotama – 12/92
13. Album, Katon Bagaskara (Dinda Dimana) Aquarius – 1992
14. Album Silvana Herman (Lupakan Saja) Granada – 10/93
15. Album, Silvana Herman (Boleh Sayang) Granada – 12/93
16. Album, Sophia Lajuba (Tiada Kata) Blackboard – 04/94
17. Album, Katon bagaskara (Ruang lampau) Aquarius - 1995
19. Album, Vonny Sumlang (Rica-rica) Boulevard – 12/95
20. Album, Ismi Azis (Aku Rindu) Blackboard – 12/95
21. Album, Ismi Azis (Cinta Kita) Hemagita – 4/96
22. Album, Irianti E Praja (Kau Tinggalkan Aku) Musica – 12/96
23. Album, Ita Purnamasari (Cinta Itu Ada) Blackboard – 12/96
24. Album, Utha Likumahua (Tak Sanggup Lagi) Aquarius – 1997
25. Album, Lilo (Mual / Solo) ProSound – 04/97
26. Album, Vina Panduwinata (Biarkan Cinta Itu Ada) Metrotama – 12/00

§ Film :

1. Catatan Si Emon PT.Bola Dunia Film 1991
(Pemain: Nurul Arifin, Ade Faizal, Ade Irawan&Aom Kusman)
( peñata musik : Raidy Noor )


ReviewReviewReviewReviewReview " Musisiku"Nov 9, '07 1:01 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Reference
Author:KPMI
Buku ini memuat 40 artikel (320 hal) tentang musisi Indonesia era 60'an hingga 80'an,ditulis secara bersama-sama oleh teman2 KPMI(Komunitas Pencinta Musik Indonesia).